ANALISIS

Layu Bunga Deposito di Tengah Rencana Mekar Bunga The Fed

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Selasa, 06/03/2018 13:37 WIB
Layu Bunga Deposito di Tengah Rencana Mekar Bunga The Fed Sejumlah bank melihat ruang penurunan bunga deposito hingga 50 basis poin. Persoalannya, The Fed berencana menaikkan bunga acuan yang akan direspons oleh BI. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana The Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, untuk menaikkan suku bunga acuannya tengah dinanti-nanti. Tak terkecuali oleh Indonesia. Jika proyeksi kenaikan suku bunga AS benar terjadi, Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral di dalam negeri juga tentunya akan mengantisipasi kenaikan bunga lewat 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR).

Pasalnya, kenaikan Fed Fund Rate (FFR) akan membuat bunga pinjaman dan simpanan bank di AS mekar. Sehingga, menarik bagi investor untuk menaruh dananya di Negeri Paman Sam tersebut.

Apalagi, kenaikan bukan cuma untuk bunga pinjaman dan simpanan saja, tetapi juga bunga obligasi yang diterbitkan korporasi di AS. Tentu, hal ini berpotensi menimbulkan dana keluar (capital ouflow) dari Indonesia ke AS.


Makanya, bukan tidak mungkin, kenaikan FFR juga diantisipasi oleh BI dengan menaikkan suku bunga acuannya.


Persoalannya, di tengah rencana mekarnya suku bunga acuan The Fed dan BI ini, beberapa bank malah melihat masih ada ruang penurunan untuk simpanan jenis deposito.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk misalnya yang menyebut masih memiliki ruang untuk menyeret turun bunga depositonya. Tak tanggung-tanggung, menurut hitung-hitungan perusahaan, bahkan penurunan bunga deposito bisa mencapai 50 basis poin (bps).

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, penurunan bunga deposito bisa berlangsung sampai akhir bulan ini. Dengan catatan, BI tidak menaikkan suku bunga acuannya.

"Bunga deposito masih bisa turun dari 5,5 persen menjadi 5 persen setidaknya sampai Maret 2018. Setelah itu, kami lihat lagi suku bunga acuan di AS. Tetapi, untuk saat ini, masih ada potensi untuk penurunan," ucap Tiko, sapaan akrabnya, akhir pekan lalu.


PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk juga melihat ruang penurunan bunga depositonya hingga 50 bps. Namun, Direktur Utama BRI Suprajarto mengingatkan, penurunan terjadi paling tidak hanya sampai kuartal I.

Memasuki kuartal kedua, sambung dia, diperkirakan ada perubahan sentimen di pasar keuangan yang dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral luar negeri dan perekonomian global. "Saat ini, kami di 5,75 persen. Jadi, maksimum bisa turun menjadi 5,25 persen. Tapi, BRI tentu tidak bisa sendirian menurunkan. Harus lihat yang lain dan BI juga," imbuhnya.

Ekonom dari Standard Chartered Bank Aldian Taloputra menilai, kecenderungan suku bunga deposito untuk turun benar-benar ada sampai ada kepastian dari The Fed dan BI. "Likuiditas yang banyak mendukung penurunan suku bunga deposito," katanya.

Menilik lebih dalam, keinginan bank-bank menurunkan bunga deposito yang terjadi jelang keputusan The Fed boleh dibilang akan berakhir sia-sia. Pasalnya, kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuannya nyaris tak terbendung yang direspons positif oleh mata uang dolar AS.


Ekonom sekaligus Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Aviliani melihat, saat ini, tidak ada lagi ruang bagi perubahan bunga deposito.

Bank, sambung dia, akan memilih menanti kepastian naik atau tidaknya suku bunga acuan The Fed dan BI, sehingga yang dilakukan adalah menahan suku bunga tetap pada tingkatan masing-masing.

"Jadi, akan stay (tetap) saja di tingkat sekarang ini. Mereka tunggu kepastian, baru setelah itu merespons," tegas Aviliani kepada CNNIndonesia.com.

Ketika ada kepastian akan dinaikkannya FFR sekitar Maret hingga April ini, Aviliani meyakini bahwa BI akan segera menyesuaikan dengan ikut mengerek suku bunga acuannya.


"Kenaikan The Fed seberapa besar itu belum diketahui, meski relatif kecil. Tetapi, begitu dinaikkan, saya rasa BI akan merespons dengan cepat menaikkan suku bunga sekitar 25 basis poin," terang dia.

Setelah ada kepastian itu, barulah suku bunga deposito menyesuaikan. Namun, yang menjadi pertimbangan lain adalah likuiditas bank masih berlimpah.

"Kalau bank kelebihan likuiditas, dia juga tidak langsung menurunkan bunga, karena di satu sisi tidak bisa menyalurkan kreditnya juga. Dari sisi permintaannya memang tidak banyak," jelasnya. (bir)