EDUKASI KEUANGAN

Siasat Hindari Jeratan Utang Kartu Kredit

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Sabtu, 10/03/2018 13:01 WIB
Siasat Hindari Jeratan Utang Kartu Kredit Maraknya promo yang ditawarkan sering membuat pemegang kartu kredit 'gelap mata' saat menggesek dan tanpa sadar membuat tagihan kian membengkak. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebelum berbagai fitur pembayaran secara nontunai marak, pembayaran melalui kartu kredit telah lebih dulu familiar di masyarakat, khususnya bagi kalangan menengah ke atas.

Di zaman sekarang, penggunaan kartu kredit tak lagi menjadi sesuatu yang mewah. Akses informasi yang semakin mudah untuk mengenal nasabah, membuat bank menawarkan berbagai produk kartu kredit yang sesuai dengan kemampuan dan keperluan nasabah.

Kendati demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh si pemegang agar tidak terperangkap dalam jeratan utang kartu kredit.

Perencana Keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad mengungkapkan transaksi menggunakan kartu kredit pada dasar meminjam uang dari bank/lembaga penerbit kartu kredit untuk menalangi pembayaran.Hal ini sebenarnya bagus untuk pengaturan arus kas si pemegang kartu.


Menurut Tejasari, kartu kredit cocok untuk pembayaran tagihan rutin seperti telepon, listrik, air, dan internet. Kemudian, membayar pengeluaran belanja bulanan yang biasanya membutuhkan nominal besar.

"Tanggal berapapun, kartu kredit akan membayar pas pada waktu tagihan. Tinggal kita atur pembayaran tagihan kartu kredit dilakukan dekat dengan tanggal gajian," ujar Tejasari saat dihubungin CNNIndonesia.com, Rabu (8/3).

Selain itu, kartu kredit juga mempermudah untuk membayar transaksi secara daring (online), misalnya untuk pembelian tiket transportasi dan pemesanan hotel.

"Yang perlu diperhatikan adalah bisa tidak kita melunasi sebelum jatuh tempo, karena kalau tidak, kita harus membayar bunga dan denda karena terlambat," ujarnya.

Oleh karena itu, jenis kartu kredit yang dipilih harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan membayar si pemegang kartu.

Idealnya, lanjut Tejasari, hanya 40 persen dari penghasilan yang dikeluarkan untuk pengeluaran rutin. Namun, fasilitas cicilan kartu kredit memang sering kali, membuat masyarakat mudah tergoda membeli barang yang harganya jika dibeli secara tunai sebenarnya di luar kemampuan.

"Bahayanya kalau semua tagihan kartu kredit kita adalah cicilan yang tidak mampu kita bayar. Misalnya, tagihan cicilan bulanan Rp5 juta padahal kita hanya mampu bayar Rp500 ribu. Bulan depan, tagihan kita sudah naik menjadi Rp9,5 juta," ujarnya.
Fasilitas cicilan pada kartu kredit memang sering kali membuat pemilik kartu tergoda membeli barang yang sebenarnya di luar kemampuan jika harus dibayar secara tunai.Fasilitas cicilan pada kartu kredit memang sering kali membuat pemilik kartu tergoda membeli barang yang sebenarnya di luar kemampuan jika harus dibayar secara tunai. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)

Berbagai promo yang ditawarkan sebenarnya juga membuat masyarakat semakin konsumtif. Tak jarang, pemilik kartu kredit kadang 'gelap mata' dalam menggunakan kartu kredit karena merasa limit (batas pinjaman) yang diberikan besar. Akibatnya, saat mau membayar tagihan, si pemegang kartu ketar-ketir karena jumlah tagihan yang terlalu besar dan di luar kemampuan.

"Karenanya, jangan mudah tergoda dengan promo," ujarnya.

Jika hanya membayar sebagian kecil tagihan, si pemegang kartu akan menanggung beban bunga yang besar di bulan berikutnya. Kalau terjadi terus-menerus hal ini tentu membahayakan kondisi keuangan si pemegang kartu.


Dalam kondisi demikian, menurut Tejasari, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, segera melunasi tagihan, misalnya dengan menggunakan tabungan atau menjual aset pribadi. Dengan demikian, si pemegang kartu tak lagi terbebani oleh utang kartu kredit yang membengkak setiap bulan.

Dalam kondisi tidak memiliki aset, si pemegang kartu harus langsung menghubungi bank yang bersangkutan. Beberapa bank bersedia melakukan negosiasi terkait periode pembayaran cicilan kartu kredit sehingga jumlah cicilan yang dibayarkan per bulan mengecil.

"Risikonya, si pemegang kartu jadi memiliki utang dalam jangka waktu lebih panjang," ujarnya.


General Manajer Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Marta mewanti-wanti bahwa limit di dalam kartu kredit bukan tambahan penghasilan. Dengan demikian, penggunaan kartu kredit harus dilakukan secara hati-hati mengingat cepat atau lambat harus dilunasi.

"Kartu kredit jangan menjadi sarana atau sumber uang baru," ujar Steve.

Penerbit kartu, lanjut Steve, biasanya sudah memiliki patokan bahwa limit maksimal kartu kredit tak melebihi tiga kali gaji si pemegang kartu. Hal ini untuk memastikan bahwa tagihan akan lunas jika si pemegang kartu hanya membayar 10 persen dari tagihan setiap bulannya.

"Jika tagihan sudah terlalu bengkak ya harus setop dulu pemakaiannya," ujarnya.

(agi/agi)