Ada Kelebihan Pasokan Gas Alam Cair 3,2 Juta MT

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 16/03/2018 17:14 WIB
Ada Kelebihan Pasokan Gas Alam Cair 3,2 Juta MT Neraca gas alam Indonesia diproyeksikan kelebihan pasokan sekitar 3,2 juta MT karena permintaan gas domestik dan komitmen ekspor yang lemah dibanding impor. (Ilustrasi/ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja).
Jakarta, CNN Indonesia -- Neraca gas alam cair (Liquified Natural Gas/LNG) Indonesia diproyeksi kelebihan pasokan sekitar 3,2 juta Metrik Ton (MT) tahun ini. Pasalnya, permintaan gas domestik dan komitmen ekspor masih tak mampu mengimbangi besaran produksi dan komitmen impor.

Analis Senior untuk Gas dan Listrik Wood MacKenzie Edi Saputra mengungkapkan produksi LNG tahun ini diperkirakan mencapai 18,5 juta Metrik Ton (MT). Adapun, sekitar 9 juta MT di antaranya berasal dari Kilang Bontang, 7 juta MT dari Kilang Tangguh, dan 2,5 juta ton dari Kilang Donggi Senoro.

Sementara, dari sisi permintaan, komitmen ekspor diperkirakan hanya berkisar 12,5 juta MT ke negara-negara di Asia Timur, seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan China.



Kemudian, permintaan LNG domestik tahun ini diperkirakan berkisar 2,8 juta MT atau meningkat dari tahun lalu yang hanya sekitar 2,4 juta MT. Peningkatan itu berasal dari pembangkit listrik yang mulai beroperasi.

"Dengan kondisi demikian, maka masih akan ada surplus (kelebihan pasokan) sekitar 3 juta sampai 4 juta MT yang terlalu besar untuk pasar spot, " ujar Edi di sela pertemuan Excutive Commitee Gas Indonesia Summit & Exhibition 2018 di Hotel Four Seasons Jakarta, Jumat (16/3).

Tahun lalu, permintaan gas domestik 2,4 juta metrik ton (MT) atau turun sekitar 15 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya, yaitu 2,8 juta ton. Penyebabnya tidak lepas dari permintaan LNG sektor pembangkit yang tidak sesuai harapan.

Kondisi surplus, lanjut Edi, juga diakibatkan oleh beberapa kontrak ekspor gas yang masa berlakunya habis dan tak diperpanjang. Di antaranya kontrak ekspor dengan Kogas (Korea) dan CPC (Taiwan).


"Tahun lalu, ada beberapa kontrak ekspor gas yang sudah berhenti dan pemerintah menolak untuk memperpanjang. Akibatnya, kita sekarang kelebihan LNG," imbuh dia.

Melihat kondisi tersebut, Edi menilai pemerintah seharusnya lebih fleksibel dalam membuka keran ekspor LNG, mengingat pengurangan produksi bukanlah opsi yang direkomendasikan.

Beberapa negara yang berpotensi menyerap surplus LNG Indonesia, salah satunya China. Negara Tirai Bambu itu diperkirakan menjadi motor permintaan gas ke depan. Selain itu, potensi ekspor gas juga bisa dikirim ke Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Vietnam, dan Thailand.

Sementara, permintaan dari negara tradisional tujuan ekspor gas diperkirakan relatif stagnan di antaranya ekspor gas ke Jepang, Korea, dan Taiwan.


Sekretaris Jenderal Satuan Kerja Khusus (SKK) Minyak dan Gas (Migas) Arief Setiawan Handoko juga memperkirakan neraca LNG tahun ini kembali surplus, mengingat ada beberapa kontrak ekspor yang masa berlakunya sudah habis tidak diperpanjang. Namun, Arief menegaskan kebijakan pemerintah dilakukan untuk memastikan terpenuhinya permintaan LNG domestik.

"Kami kan ingin membantu program pemerintah untuk (memenuhi) kebutuhan LNG domestik makanya ada sebagian kontrak ekspor yang tidak diperpanjang," terang Arief. 

Secara terpisah, Direktur Komersial PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Danny Praditya mengungkapkan permintaan ritel domestik, pertumbuhannya tahun ini diperkirakan hanya berkisar dua hingga tiga persen.


"Bisa dibilang permintaan tumbuh stabil," katanya.

Namun, perseroan juga masih membuka peluang untuk melakukan ekspor ke negara lain yang berminat.

"Saat ini, belum ada negara yang menyatakan minat," pungkasnya. (bir)