Indonesia Menang Gugatan Banding Uni Eropa untuk Biodiesel

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 22/03/2018 10:06 WIB
Indonesia Menang Gugatan Banding Uni Eropa untuk Biodiesel Pemerintah dan sejumlah pelaku usaha industri biodiesel Indonesia memenangkan gugatan tingkat banding di Mahkamah Uni Eropa dalam kasus Bea Masuk Anti-Dumping. (Beawiharta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah dan sejumlah pelaku usaha industri biodiesel Indonesia memenangkan gugatan tingkat banding di Mahkamah Uni Eropa (UE) dalam kasus Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD).

Sebagai konsekuensi kekalahan, UE harus menghapus pengenaan BMAD untuk produk biodiesel Indonesia mulai 16 Maret 2018.

Sebelumnya, UE mengenakan BMAD terhadap produk biodiesel Indonesia dengan margin dumping sebesar 8,8 persen hingga 23,3 persen sejak 19 November 2013.



"Dengan demikian, pengenaan BMAD yang dilakukan UE dihapuskan sehingga para pelaku usaha bisa kembali mengekspor biodiesel tanpa ada tambahan BMAD," ujar Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (22/3).

Sementara itu, produsen yang tidak mengajukan gugatan ke pengadilan lokak UE harus menunggu implementasi hasil keputusan panel Badan Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement Body/DSB) Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/ WTO).

Kemenangan di tingkat banding ini merupakan kemenangan ganda bagi Indonesia. Sebelumnya, Indonesia juga berhasil memenangkan sengketa biodiesel dalam panel DSB WTO.

Berdasarkan catatan Kemendag, pengajuan gugatan terhadap pengenaan BMAD di Pengadilan Umum Tingkat I UE dimulai sejak 19 Februari 2014. Pada 15 September 2016, Pengadilan Umum Tingkat I UE menolak penerapan BMAD. Dari hasil tersebut, UE mengajukan gugatan banding ke Mahkamah UE pada 24 November 2016 lalu.

Putusan Mahkaman UE dan WTO juga memberikan sinyal positif bagi mitra dagang Indonesia terutama dalam hal menciptakan perdagangan yang adil untuk produk minyak sawit dan turunannya. Dengan demikian, perluasan akses pasar biodiesel bisa terwujud dan perdagangan ekspor minyak sawit Indonesia ke UE bisa segera kembali lancar.


Selain itu, kemenangan ini juga menjadi bekal Indonesia untuk menghadapi tuduhan sejenis dari negara lain.

"Kemenangan ganda ini juga memberikan peluang yang besar bagi ekspor biodiesel Indonesia untuk kembali bersaing di pasar UE," ujarnya.

Direktur Pengamanan Perdagangan, Pradnyawati menambahkan bahwa pemerintah akan melakukan pemantauan terhadap hasil keputusan Pengadilan UE tersebut.

"Pemerintah akan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pihak produsen/eksportir untuk memastikan bahwa UE segera melaksanakan hasil keputusan pengadilan dan akses pasar benar-benar terbuka," ujar Pradnyawati.


Sebagai informasi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode 2013-2016 ekspor biodiesel Indonesia ke Uni Eropa terus merosot dari US$649 juta di 2013 menjadi US$150 juta.

Nilai ekspor biodiesel Indonesia ke UE terendah terjadi pada 2015 yaitu hanya US$68 juta. Padahal, sebelum pengenaan BMAD, ekspor biodiesel Indonesia ke UE sempat mencapai US$1,4 miliar pada 2011. (lav/lav)