OJK dan BI Kompak Minta Bank Percepat Migrasi Kartu ke Chip

Yuli Yanna Fauzie & Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 22/03/2018 19:18 WIB
OJK dan BI Kompak Minta Bank Percepat Migrasi Kartu ke Chip OJK meminta bank mempercepat migrasi kartu debit/ATM ke teknologi chip, meskipun ketentuan wajibnya berakhir pada 31 Desember 2021 nanti. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta perbankan mempercepat proses migrasi kartu debit/ATM dari teknologi pita magnetik (magnetic stripe) ke teknologi chip. Hal ini untuk mencegah terjadinya praktik kejahatan di sektor perbankan, khususnya lewat skema penggandaan kartu (skimming) yang tengah marak terjadi.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso berharap perbankan bisa menyelesaikan 100 persen proses migrasi semua kartu debit/ATM ke teknologi chip sebelum batas waktu yang tertuang dalam Surat Edaran Bank Indonesia No.17/52/DKSP, yaitu pada 31 Desember 2021. Pasalnya, teknologi chip dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menghindari skimming.

"Meskipun batas waktu bank mengganti dengan chip masih lama, tapi semua bank kami imbau untuk mempercepat itu. Kalau sekarang (targetnya) 2021, kami minta dipercepat. Ya tapi jangan tahun ini, masing-masing bank punya kondisi sendiri-sendiri," ujarnya, Kamis (22/3).



Selain itu, Wimboh berpesan bagi nasabah yang kehilangan dananya akibat kasus skimming langsung melaporkan hal tersebut ke bank terkait dan pihak bank juga segera menyelesaikan masalah tersebut. Sehingga, kasus skimming tak berlarut-larut.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya menyebut bahwa komplotan pelaku skimming telah berhasil membobol sejumlah ATM dari 64 bank, baik di dalam maupun luar negeri dengan total kartu mencapai 1.314 kartu.

Untuk yang di dalam negeri, setidaknya ada 13 bank yang menjadi korban skimming, seperti BRI, Bank Mandiri, BCA, dan BNI dengan kerugian diperkirakan sekitar miliaran rupiah.


Meski begitu, Wimboh belum ingin memberi keterangan soal kejelasan data atas kasus skimming tersebut. "Jumlah banknya banyak (yang terkena skimming). Kami tidak bisa menyebut bank mana saja, tunggu saja," pungkasnya.

Kasus skimming sebelumnya telah terkuak di BRI dan Bank Mandiri. Manajemen BRI kemudian mengganti uang 35 nasabah dengan jumlah mencapai Rp144 juta. Sedangkan, Bank Mandiri mengganti uang 141 nasabah dengan jumlah mencapai Rp260 juta.

"Kami akan percepat migrasi kartu dari magnetik ke chip. Dana yang hilang sudah diganti semua," tutur Direktur Utama Mandiri Kartika Wirjoatmodjo.


Sementara itu, pekan depan, Bank Indonesia (BI) akan memanggil perbankan anggota Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) terkait percepatan migrasi kartu debit/ATM.

Kepala Departemen Kebijakan sistem Pembayaran BI Onny Widjanarko memandang migrasi ini punya tingkat urgensi tinggi seiring maraknya kasus skimming dalam beberapa pekan terakhir.

"Minggu depan kami akan undang asosiasi sistem pembayaran untuk segera mempercepat migrasi dari kartu magnetic menjadi chip. Ini dilakukan karena BI sangat concern sekali dengan skimming," imbuh Onny, Kamis (22/3).


Ia melanjutkan, seharusnya migrasi ke teknologi chip tidak menjadi masalah bagi perbankan karena harganya cukup terjangkau. Ia menyebut, dulu penggunaan teknologi chip membutuhkan dana Rp50 ribu untuk satu kepingnya. Saat ini, instalasi teknologi chip dalam kartu mungkin hanya memakan uang Rp27 ribu atau setara US$2 per kepingnya.

"Dulu chip memang mahal, tapi sekarang sudah affordable (terjangkau). Harusnya ini bisa menjadi peluang bahwa migrasi bisa dipercepat dan mencegah terjadinya fraud," tuturnya.

Makanya, ia berharap realisasi migrasi kartu chip bisa terjadi lebih cepat dari jadwal seharusnya, yakni pada 2021 nanti. Namun, tentu langkah itu harus diiringi dengan standarisasi mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) serta mesin Electronic Data Capture (EDC).


"Nanti dengan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN), maka harusnya ada lembaga standar tersendiri sehingga semua mesin bisa compatible dengan kartu teknologi chip," pungkasnya. (bir)