Warga 'Tetap Asyik' Soal Larangan Premium Jelang Asian Games

Dinda Audriene Mutmainah, CNN Indonesia | Jumat, 30/03/2018 13:11 WIB
Warga 'Tetap Asyik' Soal Larangan  Premium Jelang Asian Games Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat seakan tak ambil pusing dengan arahan pemerintah yang melarang kendaraan penumpang menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium mulai Juli mendatang atau jelang perhelatan Asian Games 2018.

Pasalnya, sebagian masyarakat menyatakan sudah jarang menggunakan BBM jenis Premium seiring dengan kelangkaan bahan bakar itu beberapa waktu terakhir.

Amri Lukman Rosyadi (28) mengatakan lebih sering menggunakan BBM jenis Pertalite untuk sehari-hari. Tak hanya karena BBM Premium sulit ditemui, ia memandang dampak pemakaian BBM Pertalite lebih bagus dibandingkan dengan Premium.
"Kalau dihitung-hitung, 90 persen dalam satu bulan pakai BBM Pertalite. Jadi aturan itu tidak berpengaruh juga karena sudah biasa pakai Pertalite," ungkap Amri kepada CNNIndonesia.com, Jumat (30/3).


Salah satu karyawan di anak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini juga mengaku mengonsumsi Pertamax sesekali jika malas mengantre untuk membeli Pertalite. Meski lebih memilih menggunakan Pertalite dan Pertamax, Amri juga terkadang membeli Premium jika antrean tidak panjang.

"Tapi kalau dibandingkan tarikan mobil saat mengendarai jauh lebih nyaman jika menggunakan BBM Pertamax, beda kalau menggunakan Premium tidak se-ringan Pertamax," cerita Amri.

Dalam satu bulan biasanya Amri menghabiskan dana sekitar Rp800.000-Rp1.000.000 untuk membeli BBM. Harga BBM Pertalite dan Pertamax yang lebih tinggi dibandingkan Premium dinilai tak masalah bagi Amri karena kualitasnya yang juga berbeda.
Senada, Amira Freslyani (24) juga sudah terbiasa membeli BBM Pertalite karena enggan ikut mengantre untuk membeli BBM Premium. Kewajiban pemerintah agar kendaraan penumpang menggunakan BBM dengan kadar oktan sebesar 90 persen ke atas pun dinilai tak memberatkan biaya operasionalnya.

"Premium saja sekarang sudah susah dicari, jarang dapat. Sekalinya ada antre panjang sekali. Mau tidak mau selama ini juga sudah gunakan Pertalite," ujar Amira.

Seperti diberitakan sebelumnya, alasan pemerintah atas kewajiban penggunaan BBM dengan kadar oktan 90 ke atas untuk mengurangi emisi timbal (Pb) yang mengganggu kesehatan.
Amira berpendapat, jika memang tujuannya untuk menjaga kesehatan lingkungan maka percuma karena jumlah mobil pribadi tiap bulan dan tahunnya bertambah. Meski BBM dengan kadar oktan tinggi akan mengurangi emisi timbal, tetapi emisi timbal yang dihasilkan oleh kendaraan juga akan bertambah seiring dengan peningkatan mobil pribadi.

"Jadi sama saja sebenarnya, kayaknya tidak akan terlalu memengaruhi kesehatan lingkungan juga," kata Amira.

Sementara itu, Fetry Wuryasti (28) menyatakan lebih suka membeli BBM Pertamax karena kualitasnya yang jauh lebih tinggi dibandingkan Premium dan Pertalite. Menurutnya, harga yang mahal sudah pasti menjadi konsekuensi yang harus diterima oleh masyarakat yang membeli mobil pribadi.

"Jadi mau bagaimana aturan pemerintah, melihatnya bukan setuju tidak setuju tapi kalau sudah punya mobil agar mesinnya bagus jadi gunakan Pertamax," tutur Fetry.
Ia mengaku terakhir membeli BBM jenis Premium ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Artinya, perempuan yang bekerja di perusahaan swasta ini sudah tak lagi menggunakan BBM jenis Premium lebih dari 10 tahun lebih.

"Tapi sebenarnya pakai mobil hanya untuk antar orang tua. Untuk kerja biasanya naik kendaraan umum. Biasanya sekali isi bensin Rp200.000 dan bisa untuk beberapa hari," pungkas Fetry.

Diketahuhui, Premium merupakan jenis BBM yang diproduksi PT Pertamina (Persero) yang memiliki kadar oktan di bawah 90. Sementara, untuk BBM produksi Pertamina dengan kadar oktan sebesar 90 atau lebih, di antaranya Pertalite dengan RON 90, Pertamax dengan RON 92, Pertamax Plus dengan RON 95, dan Pertamax Turbo dengan RON 98. (age/asa)