Pengamat: Perang Dagang AS-China Peluang Bagi Indonesia

SAH, CNN Indonesia | Selasa, 03/04/2018 22:46 WIB
Pengamat: Perang Dagang AS-China Peluang Bagi Indonesia Ekonom Faisal Basri menyebut perang dagang antara AS dan China menjadi peluang baru bagi Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasarnya. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom Faisal Basri menyebut perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China bisa menjadi peluang baru bagi Indonesia.

Sebelumnya, AS dan China bersitegang dalam transaksi dagang yang didorong kebijakan AS menaikkan tarif barang impor dari China sebesar US$60 miliar.

China pun membalas. Produk-produk asal AS dikenakan tarif impor sebesar 15 persen - 25 persen. Produk-produk impor asal AS, antara lain kacang-kacangan, anggur, daging babi, dan produk turunannya.



"Perang dagang kan mengakibatkan shrinking (penyempitan), tetapi sebetulnya bisa opportunity (kesempatan) bagi kita," ujarnya di Gedung Rektorat Universitas Indonesia (UI), Jakarta, Selasa (3/4).

Menurut dia, perang dagang antara AS dan China bisa meningkatkan penetrasi pasar bagi produk-produk dari Indonesia. Hal ini yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Justru neraca perdagangan Indonesia dengan China tercatat defisit. Kementerian Perdagangan menyebut sepanjang tahun lalu neraca perdagangan Indonesia-China defisit sebesar U$12 miliar.


Sementara, defisit neraca perdagangan yang bukan berasal minyak dan gas bumi (nonmigas) Indonesia - China mencapai US$14 miliar.

Faisal mengungkapkan Indonesia menjadi negara satu-satunya di ASEAN yang neraca perdagangannya mengalami defisit dengan China.

"Satu-satunyanya negara di ASEAN yang defisit sama China kan cuma Indonesia. Ini tidak masuk akal. Masa cabai impor dari sana kan tidak masuk akal, kalau winter (musim dingin) mereka tidak bisa metik, kita bisa metik kapan saja. Ini tidak masuk akal," terang dia.


Oleh karena itu, pemerintah harus bisa berpikir laiknya generasi milenial dengan memanfaatkan peluang yang ada dari perang dagang antara China dan AS. Indonesia harus bisa melihat komoditas yang bisa diekspor ke China untuk menggantikan barang-barang dari AS yang terkena bea impor.

"Yang tadinya AS ekspor ke China, misalnya, China impor kedelai dari AS, lalu dikenakan bea masuk. Misalnya, kita punya kedelai bagus kan bisa masuk ke China dengan harga lebih murah," pungkasnya. (bir)