Perang Dagang AS-China Gerus Ekonomi RI 0,02 Persen

Yuli Yanna Fauzie & Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia | Selasa, 27/03/2018 20:31 WIB
Perang Dagang AS-China Gerus Ekonomi RI 0,02 Persen Bank Indonesia memperkirakan perang dagang antara Amerika Serikat dan China dapat menggerus pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sekitar 0,02 persen. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China dapat menggerus pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sekitar 0,02 persen.

Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo mengatakan bahwa Amerika Serikat dan China merupakan mitra dagang Indonesia. Dengan demikian, perang dagang antara keduanya pasti berpengaruh pada Indonesia.

"Dampaknya ke semua negara dan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menurun sekitar 0,02 persen. Sebenarnya masih kecil (efeknya), tapi masih harus diperhatikan," ujar Dody di Gedung DPR, Selasa (27/3).


Dody menjelaskan, dampak langsung dari perang dagang kedua negara itu akan membuat volume perdagangan tergerus. Hal ini tentu memberi dampak bagi negara-negara mitra bisnis yang melakukan ekspor bahan baku dan impor bahan jadi dari kedua negara.



Menurutnya, dampak ke ekonomi Indonesia akan lebih besar dari China karena kerja sama dengan Negeri Tirai Bambu itu lebih besar dari sisi nilai dan volume perdagangannya. Belum lagi, China dan Indonesia berekanan dalam membangun industri smelter di dalam negeri.

Sedangkan dengan Negeri Paman Sam, Dody melihat dampaknya tak begitu besar. "Kalau dilihat dari impor AS dari Indonesia, itu hanya 1,3 persen, sehingga masih kecil. Indonesia memang lebih banyak ekspor ke China," terangnya.

Kendati begitu, Dody menekankan bahwa dampak perang dagang AS-China ke perekonomian tak hanya membayangi Indonesia saja, tetapi juga negara-negara lain di dunia. Sebab, keduanya memegang peran besar dalam pertumbuhan ekonomi dunia.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai perang dagang antara Amerika Serikat dengan China dapat memberikan dampak yang luas bagi perdagangan dunia, termasuk ekspor Indonesia.



Salah satu yang kemungkinan akan berpengaruh menurut dia adalah ekspor bahan baku bijih besi ke China. Selain itu, menurut JK, investasi China terkait pembangunan smelter di Indonesia juga berpotensi terganggu.

"Itu bisa pengaruhnya harga turun, bisa juga naik (harga bijih besi). Karena bisa terjadi, di Amerika pasti naik, tapi harga di luar negeri turun," katanya.

Sebelumnya Presiden AS Donald Trump resmi mengumumkan sanksi kepada China berupa pengenaan tarif pada barang impor China senilai US$60 miliar, setelah sebelumnya menaikkan tarif impor alumunium dan baja. Trump juga tengah menyiapkan langkah untuk membatasi investasi AS di China.

Hal itu kemudian dibalas oleh pemerintah China dengan kebijakan tarif impor baru bagi 128 produk asal AS. (agi/agi)