Perang Dagang Bawa Berkah dan Bencana bagi Indonesia

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Senin, 16/04/2018 17:38 WIB
Perang Dagang Bawa Berkah dan Bencana bagi Indonesia Pabrik dan produk baja PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) di Cilegon, Banten. (www.krakatausteel.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Proteksionisme dalam perang dagang yang dilancarkan beberapa negara membawa berkah sekaligus bencana bagi kinerja perdagangan Indonesia. Kinerja ekspor baja dan Aluminium ke Amerika Serikat (AS) bergairah, sedangkan ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) meredup.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan pengenaan tambahan bea masuk AS atas produk baja dan aluminium masing-masing sebesar 10 persen dan 25 persen yang belakangan diprotes oleh China ternyata tidak menyurutkan ekspor besi dan baja dari Indonesia.

Nilai ekspor besi dan baja Indonesia ke Amerika Serikat sepanjang Maret 2018 ternyata tumbuh hampir 15 kali lipat persen hanya dalam sebulan, dari US$2,12 juta pada bulan lalu menjadi US$35,33 juta bulan ini.


"Secara absolut memang nilainya tidak besar, tapi jika dilihat dari sisi pertumbuhan ini cukup menggembirakan. Indikasinya begitu, impor China perlahan tergantikan dengan impor baja dari negara lain termasuk Indonesia," jelas Suhariyanto di Gedung BPS, Senin (16/4).


Tingginya impor baja ini sekaligus memperkokoh posisi surplus neraca perdagangan Indonesia atas AS. Hingga kuartal I 2018, Indonesia membukukan surplus US$2,28 miliar, di mana surplus terbesar terjadi pada Maret dengan nilai US$820 juta.

Meski begitu, angka surplus kuartal I tahun ini masih lebih kecil dibanding posisi tahun sebelumnya US$2,45 miliar.

"Tapi AS masih menduduki peringkat kedua negara tujuan ekspor di tiga bulan pertama tahun ini dengan nilai US$4,42 miliar. Tujuan ekspor utama Indonesia masih ke China sebesar US$6,34 miliar," tambah dia.

Di sisi lain, Indonesia ternyata juga sudah terpapar oleh pengenaan bea masuk tambahan India akan produk minyak kelapa sawit (CPO) Indonesia.

Sebelumnya, India meningkatkan tarif bea masuk CPO dan turunannya menjadi masing-masing 44 persen dan 54 persen dari sebelumnya 15 persen dan 25 persen. Padahal di kuartal III kemarin, tarif bea masuk ini baru naik dua kali lipat dari angka sebelumnya 7,5 persen.

Ini membuat ekspor CPO ke negara Bollywood itu ikut terpukul. Data BPS menunjukkan ekspor minyak nabati ke India dalam tiga bulan pertama 2018 tercatat US$3,20 miliar atau turun 5,91 persen dibanding periode yang sama tahun lalu US$3,40 miliar.


India adalah gerbang perdagangan menuju Asia Selatan, tak heran jika ekspor CPO ke Pakistan juga turun 9,03 persen di periode yang sama. Sementara itu, ekspor CPO ke Bangladesh di kuartal I 2018 masih menunjukkan pertumbuhan 24,50 persen. Hanya saja, ekspor pada Maret kemarin turun 13,39 persen dibandingkan Februari.

"Kalau CPO memang dampaknya terasa. Kinerja ekspor lemak dan minyak nabati Indonesia turun 18,7 persen di bulan Maret 2018 terhadap bulan sebelumnya," jelas dia.

Meski ekspor CPO ke India menyusut, tenyata Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan yang masih besar dengan India. Hingga kuartal I 2018, surplus perdagangan Indonesia ada di angka US$2,09 miliar, meski angka ini turun dari periode yang sama tahun sebelumnya US$2,5 miliar.

"India pun masih menjadi satu dari tiga negara di mana Indonesia menghasilkan surplus terbesar. Dua negara lainnya adalah Amerika Serikat dan Belanda," imbuhnya.

(lav/bir)