Dengan menggunakan asumsi kurs Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp13.400, maka utang luar negeri itu setara dengan Rp4.773,55 triliun.
Berdasarkan statistik utang luar negeri yang disusun BI, utang ini terbagi atas dua jenis yakni, utang pemerintah dan utang swasta. Utang pemerintah tercatat naik 11,9 persen menjadi US$181,39 miliar, sedangkan utang swasta berada pada posisi US$174,83 miliar atau naik 7,05 persen secara tahunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:BI Godok Aturan Main Komodo Bond |
Jika ditilik dari sumbernya, asal utang pemerintah yang paling utama adalah Surat Berharga Negara (SBN) yakni US$121,55 miliar atau 67,01 persen dari total utang pemerintah. SBN terbagi atas kepemilikan domestik sebesar US$61,33 miliar dan asing sebanyak US$59,66 miliar.
Dari sisi utang luar negeri swasta, korporasi bukan bank paling banyak mendapat pinjaman luar negeri dengan total U$133,57 miliar atau 76,39 persen dari total utang swasta. Sementara aliran pinjaman luar negeri yang masuk ke lembaga keuangan tercatat US$41,26 miliar.
Kendati demikian, pertumbuhan utang luar negeri melambat dibanding bulan sebelumnya sebesar 10,4 persen secara tahunan. Perlambatan pertumbuhan utang terjadi baik di utang swasta maupun utang pemerintah.
Alasannya, sebagian besar berasal dari penurunan kepemilikan asing pada SBN domestik yang mencapai US$3 miliar dalam sebulan terakhir.
"Pemanfaatan utang luar negeri pemerintah diprioritaskan untuk kegiatan yang sifatnya produktif dan invetasi dalam rangka menunjang pertumbuhan ekonomi," ujar laporan itu dikutip Selasa (17/4).
Lihat juga:Neraca Dagang Maret 2018 Surplus |
Di sisi lain, jumlah utang swasta tumbuh melambat karena turunnya kenaikan pinjaman bagi sektor keuangan yang mendominasi struktur utang swasta. (lav/bir)