Bangun PLTA di Kaltara, China Gelontorkan Dana US$17 Miliar

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Selasa, 17/04/2018 13:30 WIB
Bangun PLTA di Kaltara, China Gelontorkan Dana US$17 Miliar Ilustrasi Pembangkit listrik tenaga air. (Thinkstock/MasaoTaira)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan asal China dan Indonesia ditargetkan memulai kerja sama pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Kalimantan Utara pada tahun ini dengan total investasi sebesar US$17,8 miliar.

Ini merupakan bagian dari kesepakatan kedua negara yang telah diresmikan melalui penandatanganan kontrak kerja sama pada akhir pekan lalu. Perusahaan asal China berencana investasi di empat provinsi, yaitu Kalimantan Utara, Sumatra Utara, Sulawesi Utara, dan Bali dengan total investasi sekitar US$20 miliar.


Dalam rapat koordinasi yang dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dengan Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambire kemarin, Senin (16/4), potensi aliran listrik yang dihasilkan di Kalimantan Utara dari pembangunan PLTA mencapai 11 ribu megawatt (MW).

"Potensi di Sungai Kayan Kalimantan Utara cukup besar, kalau bisa diwujudkan maka kontribusinya sangat besar," ungkap Irianto.

Dalam pembangunan PLTA ini, Irianto menyebut pembangunan akan dilakukan secara bertahap. Ia menargetkan pembangunan PLTA tahap pertama sebesar 900 MW.

Pihak dari perusahaan China akan datang ke Indonesia pada 7 Mei mendatang. Namun, pengkajian terkait studi kelayakan proyek PLTA akan dilakukan mulai pekan ini.


"(Dana cair) setelah perdana menteri dari China datang," imbuh Irianto.

Hanya saja, belum ada kesepakatan jumlah dana yang akan diukucurkan untuk pembangunan tahap pertama PLTA di Kalimantan Utara. Irianto menargetkan ada satu pembangunan PLTA yang dimulai tahun ini.

"Minggu ini tim dari China juga akan review hasil studi kelayakan mengenai kebutuhan untuk listrik, nantinya review akan dijadikan rekomendasi selanjutnya," papar Irianto.

Sementara itu, kerja sama Indonesia dan China juga menyepakati pengembangan industri konversi dimethyl ethercoal menjadi gas sebesar US$700 juta, pengembangan pembangkit listrik di Bali dengan nilai investasi US$1,6 miliar, dan pengembangan smelter baja sebesar US$1,2 miliar.

(lav)