AS Beri Sinyal Kibarkan Bendera Perang Dagang Lawan Jepang

Lavinda, CNN Indonesia | Rabu, 18/04/2018 12:31 WIB
AS Beri Sinyal Kibarkan Bendera Perang Dagang Lawan Jepang Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Sinzho Abe bertemu untuk membahas hubungan dagang dan diplomatik. (Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah menciptakan polemik dengan China, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberi sinyal perang dagang dengan Negeri Matahari Terbit, Jepang.

Seperti dikutip dari CNN.com, Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe melakukan pertemuan di Resor Ma-a-Lago, mulai Selasa (17/4). Kedua pemimpin membicarakan tentang perdagangan dan isu-isu utama lain.


Setiap tahun, transaksi perdagangan AS dan Jepang tercatat mencapai US$200 miliar. Nilai itu membuktikan adanya hubungan yang vital antara ekonomi kedua negara. Trump ingin merombak kerja sama perdagangan, tetapi Abe tidak begitu tertarik.


Jepang merupakan mitra dagang terbesar keempat Amerika Serikat dan sekutu militer utama di Asia. Namun Trump tidak senang dengan kondisi perdagangan kedua negara yang dia anggap tidak adil dan tak terbuka.


Trump: Jepang 'Memukul Kami'

Jepang mengekspor lebih banyak barang dibanding mengimpor ke AS, dan menciptakan surplus hampir US$70 miliar pada akhir 2017. Negara-negara yang mengalami surplus besar dengan AS, terutama China, seringkali menjadi target kemarahan Trump.

"AS akan membuat kesepakatan dengan Jepang yang 'telah memukul kami dengan keras' dalam perdagangan selama bertahun-tahun," demikian cuitan dalam akun Twitter resmi Trump.


Pernyataan itu merupakan bukti bahwa pemerintah AS sangat menginginkan adanya pembicaraan tentang kesepakatan perdagangan bebas yang akan memberi peluang lebih baik bagi perusahaan-perusahaan AS di Jepang, sebagai negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia.

Di sisi lain, pemerintah Jepang menegaskan pihaknya tak terburu-buru untuk mendaftar dalam negosiasi bilateral dengan Gedung Putih. Sebelumnya, Jepang diketahui kecewa dengan keputusan Trump yang menarik diri dari kesepakatan perdagangan bebas di Pasifik (Trans Pasific Partnership/TPP)tahun lalu.

"Ketika dua negara bernegosiasi, negara yang lebih kuat semakin kuat," kata Menteri Keuangan Jepang Taro Aso akhir bulan lalu.


Aso memprediksi bahwa kesepakatan perdagangan bilateral akan menyebabkan 'rasa sakit yang tak perlu' bagi Jepang.

Para ahli menilai, Jepang enggan merombak kesepakatan karena ingin melindungi industri penting seperti pertanian dari kompetisi asing. Berdasarkan aturan saat ini, impor pertanian ke Jepang menghadapi tarif yang signifikan.

Kemitraan Trans-Pasifik dianggap akan membantu menurunkan hambatan ekspor bagi para petani AS.


Di sisi lain, di bawah tekanan dari anggota parlemen dan gubernur dari negara-negara bagian pertanian pekan lalu, Trump meminta penasihat ekonominya untuk mengkaji kembali kesepakatan TPP.

Para ahli mengatakan pemerintah AS akan menghadapi rintangan besar untuk mencoba kembali ke pakta, sementara Jepang dan negara anggota lain perlu menanggapi usulan kesepakatan AS dengan hati-hati.

Gagasan untuk kembali mengkaji kesepakatan TPP menjadi 'senjata' AS untuk menekan Jepang dalam pertemuan bilateral.


"AS juga menggunakan ancaman bea masuk tambahan sebagai alat negosiasi untuk memaksa Jepang menandatangani perjanjian perdagangan bebas bilateral," kata Ekonom Senior Jepang di perusahaan riset Capital Economics Marcel Thieliant.

Salah satu kebijakan Trump yang dapat menimbulkan 'cidera' pada ekonomi Jepang adalah hambatan bagi produsen mobil Jepang untuk mengekspor ke AS.

Namun hal itu tak terlalu berpengaruh besar terhadap Jepang, karena perusahaan mobil raksasa Jepang memiliki pabrik-pabrik besar AS, dan mereka telah meningkatkan investasi selama beberapa dekade.

(lav/bir)