Harga Minyak Melejit Dipicu Penurunan Stok Minyak AS

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 19/04/2018 07:31 WIB
Harga Minyak Melejit Dipicu Penurunan Stok Minyak AS Ilustrasi pengilangan minyak mentah. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak melejit hampir 3 persen pada perdagangan Rabu (19/4), waktu Amerika Serikat (AS), menyusul sentimen penurunan persediaan minyak mentah AS, dan pernyataan terkait Arab Saudi yang ingin melihat harga minyak mendekati US$100 per barel.

Dilansir dari Reuters, Kamis (19/4), harga minyak mentah berjangka Brent menguat US$1,9 atau 2,7 persen menjadi US$73,48 per barel. Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,95 atau 2,9 persen menjadi US$68,47 per barel, tertinggi sejak akhir 2014.

Berdasarkan tiga sumber dari industri, Arab Saudi selaku eksportir minyak utama dunia bakal merasa senang jika harga minyak naik ke level US$80, atau bahkan US$100 per barel.


Karenanya, Arab Saudi tidak akan berusaha mengubah kesepakatan pemangkasan pasokan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), meskipun berakhirnya masa berlaku kesepakatan yang ada sekarang sudah di depan mata.

Selain itu, kenaikan harga minyak juga ditopang oleh berkurangnya persediaan minyak mentah AS selama pekan lalu. Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), stok bensin dan minyak distilasi turun lebih banyak dari ekspektasi akibat kuatnya permintaan.

Stok minyak mentah AS turun sebesar 1,1 juta barel menyusul penurunan impor minyak mentah bersih sebesar 1,3 juta barel per hari (bph).

"Ini mungkin salah satu laporan yang paling bersifat mendorong harga (bullish) dalam beberapa waktu, dengan penurunan persediaan secara menyeluruh," ujar partner Again Capital Management John Kilduff di New York.


Kilduff mengungkapkan permintaan bensin sangat kuat, menyerupai pada saat musim panas. Kemudian, ekspor minyak mentah kembali menuju ke level dua juta bph dengan realisasi 1,75 juta bph.

Analis Teknis United-ICAP Brian LaRose mencermati kenaikan pembelian minyak mentah sebagai antisipasi dari dirilisnya data persediaan minyak AS telah terjadi sejak Selasa lalu.

Pasar juga mendapatkan dukungan dari ekspektasi terhadap kebijakan pemangkasan produksi OPEC yang akan terus berjalan.

Sebagai catatan, OPEC dan 10 negara produsen minyak lain sepakat memangkas produksi minyak sebesar 1,8 juta bph sejak Januari 2017 dan berkomitmen untuk menjalankannya hingga akhir 2018.


Jumat depan, Komite Kementerian OPEC yang bertugas mengawasi jalannya kesepakatan pemangkasan produksi dengan negara non OPEC yang dipimpin oleh Rusia bertemu di Jeddah.

"Kendati harga minyak berada di atas US$70 per barel dan kelebihan pasokan sudah dikurangi, pembahasan mengenai penghentian pemangkasan produksi tidak akan berada dalam agenda," ujar analis minyak Commerzbank Carsten Fritsch.

Sebelumnya, harga minyak juga telah ditopang oleh persepsi investor bahwa tensi di Timur Tengah dapat mengganggu pasokan, termasuk sanksi baru AS terhadap Iran dan penurunan produksi Venezula yang sedang dilanda krisis.

Dalam catatan Dutch Bank ING kepada kliennya, harga Brent telah kembali ke level di atas US$70 per barel pada April. Hal itu terjadi akibat risiko geopolitik bersamaan dengan perkembangan fundamental yang bersifat mendorong harga di pasar.


Proyeksi rata-rata harga Brent untuk 2018 terdorong dari US$60,25 menjadi US$66,5 per barel dan harga WTI dari US$57,75 menjadi US$62,5 per barel.

Tahun depan, ING memperkirakan harga minyak bakal turun seiring kenaikan produksi minyak AS yang telah melonjak sekitar seperempat sejak medio 2016. (lav/lav)