ANALISIS

BI Minim Amunisi 'Angkat' Rupiah

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 25/04/2018 19:26 WIB
BI Minim Amunisi 'Angkat' Rupiah Bank Indonesia diperkirakan tak akan menggunakan instrumen bunga acuan guna menahan pelemahan rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rupiah kembali melemah sejak akhir pekan lalu. Nilai tukarnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berubah drastis jika dibanding posisi awal bulan ini.

Bank Indonesia pada awal bulan ini sempat optimis melihat pergerakan rupiah yang kembali stabil, seiring mulai masuknya arus modal dari luar (capital inflow) sebesar US$800 juta per pekan kedua April. Tak hanya itu, surplus neraca perdagangan Maret silam sebesar US$1,09 miliar disinyalir ikut membantu ketahanan rupiah.

Hanya saja, setelah BI mengumumkan untuk menahan suku bunga acuan 7 Days Repo Rate (7DRR) sebesar 4,25 persen tanggal 19 Maret kemarin, rupiah langsung berbalik arah. Tercatat, rupiah terdepresiasi 0,9 persen dalam kurun enam hari sejak pengumuman suku bunga itu.


Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada awal bulan ini bertengger di kisaran Rp13.750 per dolar AS. Namun, pada hari ini, kurs rupiah berada di level Rp13.888 per dolar AS.

Di pasar spot, kurs rupiah bahkan sempat hampir menyentuh Rp14.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (25/4). Hari ini, rupiah kembali ditutup melemah 32 poin ke level Rp13.921 per dolar AS, setelah sempat menguat tipis kemarin.

Pelemahan rupiah tak semata disebabkan oleh bunga acuan BI yang tak bergerak. Sejak akhir 2017, fluktuasi rupiah disebabkan antisipasi kemungkinan naiknya suku bunga acuan AS, Fed Fund Rate sebanyak lebih dari tiga kali di tahun ini. Di akhir pekan lalu, sentimen ini pun kembali menguat dan kembali menimbulkan gejolak pada rupiah.


Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan sentimen ini masih menguat hingga bulan keempat di tahun ini. Menurutnya, seiring kenaikan Fed Rate, maka nilai imbal hasil obligasi pemerintah AS akan meningkat, bahkan kini sudah mendekati level psikologis 3 persen.

Kondisi ini pun tak hanya berimbas ke Indonesia. Negara-negara lain juga dianggapnya mengalami depresiasi mata uang, seperti yen Jepang, yuan Tiongkok, euro, hingga dolar Singapura.

"Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah (IDR) sesuai fundamentalnya, Bank Indonesia telah melakukan intervensi baik di pasar valas maupun pasar SBN dalam jumlah cukup besar," kata Agus.

Secara teori, jika suku bunga acuan di AS meningkat, maka aliran modal akan meluncur ke AS seiring suku bunga acuan yang dijadikan patokan imbal hasil instrumen investasi di surat berharga pemerintah. Imbal hasil tersebut juga digunakan untuk menilai daya tarik obligasi korporasi swasta di negara Paman Sam itu. Untuk menahan dana asing di Indonesia, secara awamnya, Bank Indonesia seharusnya menaikkan suku bunga acuannya agar investasi di dalam negeri lebih menarik. 

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Ari Kuncoro menilai BI saat ini tengah berada di dalam kondisi yang dilematis. Di satu sisi, BI bisa saja menaikkan suku bunga acuan agar imbal hasil instrumen investasi lebih baik. Hanya saja, ketika suku bunga dinaikkan, dampaknya juga tidak serta merta bikin tidur lebih nyenyak.


Pertama, jika suku bunga acuan naik, maka harga obligasi akan turun dan berimbas pada modal keluar di pasar modal. Di samping itu, pertumbuhan ekonomi bisa melambat karena suku bunga acuan yang naik selalu diikuti dengan kenaikan bunga kredit perbankan. Ini bisa bikin konsumsi dan investasi tak bertumbuh mulus di tengah target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 5,4 persen di tahun ini.

"Jadi ibaratnya, saat ini ya BI sedang dalam posisi maju kena, mundur kena. Sebenarnya, risiko menaikkan suku bunga ini justru lebih banyak," jelas dia.

Maka dari itu, di tengah depresiasi nilai tukar dan penahanan suku bunga, BI tak punya cara lain untuk melakukan stabilisasi selain intervensi pasar valuta asing dan pasar obligasi, atau yang biasa disebut dual intervention. "BI tak punya cara lain, tetap intervensi ke pasar valas dan pasar modal," jelas dia.

Sementara itu, Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE) Piter Abdullah menilai, posisi BI yang cenderung menahan suku bunga acuan tentu ada pengaruhnya terhadap depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ia yakin, BI pasti sudah berencana untuk menahan suku bunga acuan selama tahun 2018 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. BI pun sadar bakal ada konsekuensi derasnya arus modal keluar yang berujung depresiasi rupiah.

Hanya saja, kebijakan intervensi yang konvensional tentu menggerus cadangan devisa. Piter mencatat, cadangan devisa sebesar US$6 miliar sudah habis hanya untuk intervensi nilai tukar saja dalam kurun tiga bulan terakhir.

Makanya, dibutuhkan langkah selain intervensi biasa agar bisa menahan modal asing di Indonesia. Salah satu upayanya yaitu dengan melakukan manajemen arus modal (capital flow management), yaitu instrumen kebijakan yang bikin modal asing tidak keluar masuk begitu saja.


Menurut Piter, capital flow management mewajibkan instrumen investasi yang ada di Indonesia punya jangka waktu untuk ditahan di dalam negeri (holding period). Dengan demikian, portfolio investasi nantinya bisa keluar dari Indonesia setelah masa holding period-nya habis.

Hanya saja, ia menilai bahwa kebijakan ini tak bisa dilakukan secara mendadak. Jika BI paham mengenai konsekuensi capital outflow, maka instrumen ini sudah harus dilakukan jauh-jauh hari.

"Capital yang masuk ke Indonesia mostly dalam bentuk portfolio, tapi mereka diizinkan masuk tanpa dibatasi kapan mereka keluar. Seharusnya diatur masuk dan keluarnya, jadi masuk dan keluar dengan cara baik-baik. Sehingga kalau terjadi seperti sekarang ini, bank sentral AS naikkan suku bunga, insentif di luar begitu tinggi, mereka tidak mudah keluar begitu saja," jelas Piter.

Ia melanjutkan, nilai tukar yang sedikit lagi menembus Rp14 ribu per dolar AS sebetulnya tidak mengkhawatirkan secara angka. Namun, ini bisa bikin geger pelaku pasar karena bisa mempengaruhi psikologis mereka. Sehingga, hal lain yang perlu dipastikan adalah kemampuan BI dalam menenangkan pasar modal.

Untungnya, menurut Piter, BI sudah menunjukkan itikad baik dengan memberi sinyal bahwa mereka akan selalu siaga dalam melakukan intervensi.

"Pada minggu ini, BI akan berusaha untuk kembali menarik nilai tukar rupiah sekitar Rp13.800 per dolar AS, sehingga itu akan membawa keyakinan dari pelaku pasar bahwa BI ada di pasar. pada bulan depan, jelang kenaikan The Fed atau memutuskan akan menahan atau menaikkan suku bunga acuannya, pasar sudah tidak panik lagi," imbuh dia. (agi/bir)