BI Tak Takut Bunga Kredit 'Latah' Jika Kerek Bunga Acuan

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 27/04/2018 11:21 WIB
BI Tak Takut Bunga Kredit 'Latah' Jika Kerek Bunga Acuan Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto menilai bahwa potensi suku bunga deposito dan kredit naik kecil, meski BI nantinya memutuskan menaikkan bunga acuannya. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) mengaku tak khawatir dengan potensi kenaikan suku bunga kredit perbankan jika memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya (BI 7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR).

Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto menilai bahwa potensi suku bunga deposito dan kredit naik kecil, meski BI nantinya memutuskan menaikkan bunga acuannya. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan yang telah dilakukan BI sejak 2015 hingga terakhir di 2017 sebanyak 200 basis poin (bps) tidak serta merta diikuti oleh bank.

"Betul (ada potensi naik), tapi kami sudah turunkan 200 bps, toh bunga kredit tidak turun mengikuti 7DRRR. Jadi kalau naik, juga belum tentu mengikuti kenaikan itu," ujar Erwin di kantornya, Kamis (26/4).


Selain itu, menurut Erwin, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi suku bunga deposito dan kredit, di antaranya kondisi keuangan bank dan tren permintaan (demand) kredit masyarakat.


Ia menegaskan bahwa perbankan saat ini berada dalam kondisi yang sangat sehat. Salah satunya, terlihat dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang terbilang tinggi dan berada di kisaran 22-23 persen.

"Ketahanan perbankan dalam negeri itu luar biasa. Dari sisi RoA, RoE, CAR tinggi. Sedangkan NPL rendah, masih di batas bawah. Jadi jangan dibuat susah," katanya.

Sedangkan dari sisi permintaan kredit, Erwin melihat, permintaan kredit yang masih lemah akan berpengaruh pada keputusan bank dalam suku bunga kredit. Kendati demikian, ia menilai permintaan kredit bakal mulai meningkat di tahun ini seiring membaiknya roda ekonomi.


"Ini yang menunjukkan bahwa ekonomi dalam negeri sudah menunjukkan perbaikan," pungkasnya.

Sebelumnya, BI menegaskan membuka ruang bagi kenaikan suku bunga acuannya bila kondisi ekonomi ke depan membutuhkan. Namun, keputusan kenaikan bunga akan mempertimbangkan posisi nilai tukar atau kurs rupiah ke depan dan pengaruhnya pada inflasi, serta nilai tukar.

BI tahun lalu menurunkan suku bunga acuannya dua kali, di Agustus dan September 2017 masing-masing 25 basis poin. Sedangkan hingga Maret 2018, BI masih menahan suku bunganya di angka yang sama sebesar 4,25 persen. (agi/agi)