Pengamat Sebut Rekaman Rini-Sofyan untuk Jatuhkan Jokowi

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 30/04/2018 20:10 WIB
Pengamat Sebut Rekaman Rini-Sofyan untuk Jatuhkan Jokowi Pengamat menilai rekaman pembicaraan antara Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut PLN Sofyan Basir sengaja disebarkan untuk menyerang Presiden Joko Widodo. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno sebaiknya membeberkan keseluruhan isi rekaman pembicaraanya dengan Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir, termasuk peranan Ari Soemarno. Dengan demikian, publik tidak banyak berspekulasi soal isi rekaman tersebut.

Fahmy menduga bahwa rekaman yang telah disunting tersebut disebarkan untuk menyerang Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara tidak langsung dengan cara menjatuhkan kredibilitas pembantu presiden, dalam hal ini Rini dan Sofyan. Dengan demikian, muncul justifikasi bahwa Jokowi layak dilengserkan dalam periode pemilihan presiden tahun depan.

"Jika rekaman dibuka secara utuh akan jelas peran Pertamina, PLN, termasuk peran dari Ari Soemarno. Tanpa (rekaman) dibuka, akan menimbulkan permasalahan, kegaduhan yang tidak akan selesai dan berbahaya bagi negara kita," ujar Fahmy saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (30/4).



Jika opini terkait isi rekaman tersebut berkembang, menurut dia, iklim investasi di sektor minyak dan gas (migas) bisa terganggu. Padahal, investasi merupakan komponen penting untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

"Di luar dampak politik, saya sangat menyayangkan karena jika kegaduhan semacam ini terjadi terus menerus, maka akan berdampak terhadap iklim investasi di Indonesia. Kesan bahwa ada fee atau mark up bakal menyurutkan minat investor untuk masuk ke Indonesia," ujarnya.

Menurut mantan Anggota Tim Anti Mafia Migas ini, rekaman tersebut telah direkayasa sehingga membuat Rini dan Sofyan seolah-olah "bagi-bagi fee" proyek. Padahal, pembicaraan berkutat seputar pembagian porsi saham PLN dan Pertamina dalam sebuah proyek yang wajar dilakukan antara Menteri BUMN dan seorang Direktur BUMN.

"Ada kesengajaan untuk menggoreng atau merekayasa seolah-olah para pembantu Presiden, Rini Soemarno maupun Sofyan Basir, itu bermain," ujarnya.


Diduga Fahmy, proyek yang dimaksud adalah proyek terminal penyimpanan (storage terminal) LNG Bojonegara yang rencananya akan dibangun oleh PT Bumi Sarana Migas (BSM) bekerja sama dengan perusahaan Jepang Mitsui dan Tokyo Gas. Dalam proyek tersebut, BSM ingin menggandeng PT Pertamina (Persero). Sementara, PLN akan menjadi calon penyerap (off-taker) gas yang didaratkan ke terminal tersebut. Dalam perkembangannya, proyek itu dimentahkan oleh Pertamina karena dinilai tidak menguntungkan.

Menurut Fahmy, pembicaraan menimbulkan berbagai spekulasi karena menyebut sosok kakak Rini, Ari Soemarno. Hal inilah yang perlu dijelaskan kepada masyarakat mengingat tidak etis melibatkan keluarga pejabat negara dalam suatu pembahasan proyek.

Fahmy menduga, peran Ari hanya sebagai makelar atau perantara antara perusahaan Jepang dengan perusahaan dalam negeri. Dalam bisnis migas, peran perantara sebenarnya wajar keberadaanya. Hanya saja, sosok Ari yang merupakan kakak kandung Rini, menimbulkan kecurigaan akan munculnya konflik kepentingan. Untuk itu, ia menekankan penting bagi pemerintah untuk membeberkan konteks rekaman secara utuh. (agi/agi)