Pernyataan Sri Mulyani tersebut tentu beralasan. Pasalnya, berdasarkan data terakhir Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lebih dari 200 ribu ruang kelas di Indonesia masih dalam kondisi rusak sedang dan rusak parah.
Padahal, sesuai Undang-undang, porsi anggaran pendidikan minimal 20 persen dari alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau tahun ini mencapai Rp444,13 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guna membantu perbaikan ruang kelas di Indonesia, lanjut Sri Mulyani, masyarakat juga bisa ikut berpartisipasi. Misalnya, dengan melelang barang yang tidak dipakai untuk kemudian hasilnya disumbangkan.
Penyerahan tersebut sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan lelang dan penjualan sukarela dalam rangka peringatan 110 Tahun Lelang Indonesia beberapa waktu lalu.
Sri Mulyani mengungkapkan penyerahan ini merupakan upaya membangun sinergi yang kuat antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan masyarakat guna mewujudkan pendidikan di Indonesia yang unggul, berdaya saing, dan sejajar dengan negara maju.
Hasil yang diperoleh dari lelang dan penjualan sukarela tersebut adalah uang hasil masyarakat yang disumbangkan, dan tidak terkait dengan APBN.
Selanjutnya, Yappika-ActionAid bakal menggunakan hasil lelang dan penjualan sukarela untuk pembangunan dua ruang belajar SDN Cipinang 3 Bogor kelas jauh. (lav)