Pelemahan Rupiah Berpotensi Bikin Tarif Listrik Naik

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Selasa, 08/05/2018 17:24 WIB
Pelemahan Rupiah Berpotensi Bikin Tarif Listrik Naik Ilustrasi Pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). (www.starenergy.co.id)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan berdampak pada penetapan tarif jual listrik yang bersumber dari gas panas bumi (gheotermal).

Ketua Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) Prijandaru Effendi mengatakan penjualan tarif listrik dari panas bumi oleh PT PLN (Persero) kepada pelanggan menggunakan mata uang rupiah. Sedangkan, perusahaan pelat merah ini harus membayar tarif listrik panas bumi kepada produsen swasta menggunakan mata uang dolar AS.

"Tarif jelas memiliki efek, PLN jual dalam bentuk rupiah tapi harus bayar ke Independent Power Producer (IPP) dalam bentuk dolar AS. Tentu saja (berpengaruh)," ucap Prijandaru, Selasa (8/5).

Pada siang ini atau sekitar pukul 14.00 WIB, nilai tukar rupiah tercatat terkoreksi 37 poin atau 0,26 persen ke level Rp14.038 per dolar AS. Rupiah terpantau menembus level Rp14 ribu sejak penutupan kemarin, Senin (7/5), di mana ditutup melemah 0,4 persen menjadi Rp14.001 per dolar AS.

Namun begitu, pelemahan rupiah tidak selamanya berdampak buruk pada subsektor Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), khususnya di sektor panas bumi. Pasalnya, bisnis di sektor tersebut juga akan membawa keuntungan dari investasi panas bumi yang umumnya menggunakan mata uang dolar AS.


Berdasarkan catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) jumlah investasi panas bumi pada kuartal I 2018 sebesar US$1,21 miliar.

"Jadi kan membawa mata uang dolar AS ke dalam negeri. Nanti tinggal lebih banyak mana uang dolar AS masuk atau keluar, kan itu saja," papar Prijandaru.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana mengatakan pemerintah akan melakukan lelang lima wilayah kerja panas bumi (WKP). Namun, lima WKP itu akan lebih dulu ditawarkan kepada PLN.

"Buka lelang setelah kami bicara dengan PLN, kalau tidak tertarik kami akan lelangkan," tutur Rida. (lav/lav)