REKOMENDASI SAHAM

Pelaku Pasar Masih Bisa Bertumpu pada Saham Raksasa

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Senin, 14/05/2018 15:16 WIB
Sejumlah saham berkapitalisasi besar diramalkan menguat jelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pekan ini. Sejumlah saham berkapitalisasi besar diramalkan menguat jelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pekan ini. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah saham berkapitalisasi besar diramalkan menguat jelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pekan ini. Hal itu tak terlepas dari sentimen peluang kenaikan suku bunga acuan, dan data ekonomi lain.

Untuk memanfaatkan kondisi tersebut, pelaku pasar bisa mencermati beberapa saham big cap dan melakukan transaksi beli sejak awal pekan.

Beberapa saham big cap yang masuk dalam rekomendasi saham sejumlah analis pekan ini di antaranya, PT Astra International Tbk (ASII), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dan PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP).



Analis Narapada Kapital Indonesia Kiswoyo Adi Joe mengungkapkan saham big cap akan bergerak positif ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat. Berbeda dengan saham lapis kedua (second liner) dan saham lapis ketiga (third liner) yang tidak selalu sejalan dengan perherakan IHSG.

"Kalau BI menaikkan suku bunga maka bagus untuk rupiah, jadi bagus juga kan untuk IHSG," ungkap Kiswoyo kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/5).

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memastikan pihaknya akan membuka ruang untuk menyesuaikan suku bunga acuan BI (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) di tengah kebijakan ekonomi global.

"BI memiliki ruang yang cukup besar untuk menyesuaikan suku bunga. Namun, itu akan kami bahas secara lengkap pada RDG pada 16-17 Mei mendatang," papar Agus beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, gejolak ekonomi global terutama berasal dari rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga sebanyak tiga hingga empat kali dalam tahun ini.

Namun, hingga saat ini BI masih mempertahankan suku bunga acuan di level 4,25 persen. Imbasnya, nilai tukar rupiah tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) karena mayoritas investor asing lebih tertarik untuk berinvestasi di AS dengan tawaran bunga yang tinggi.

Pada Jumat (11/5) kemarin, rupiah ditutup menguat tipis 0,88 persen di level Rp13.960 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah terus bertengger di area Rp14 ribu per dolar AS selama tiga hari perdagangan berturut-turut.

Menurut Kiswoyo, saham Astra International, Unilever Indonesia, HM Sampoerna, dan Telekomunikasi Indonesia memiliki fundamental yang cukup baik. Namun, harga saham keempat emiten ini terbilang masih rendah atau belum sejalan dengan kinerja perusahaan.

"Emiten-emiten itu bagus, masih mencatatkan laba bersih. Tidak ada masalah, tapi harga sahamnya belum naik tinggi," terang Kiswoyo.

Terpantau, tiga dari empat saham tersebut terkoreksi pada perdagangan Jumat (11/5) lalu. Satu-satunya saham yang berhasil menguat, yakni HM Sampoerna yang naik 3,61 persen ke level Rp3.730 per saham.
Pelaku Pasar Masih Bisa Bertumpu Terhadap Saham Big Cap(REUTERS/Thomas White)

Sementara itu, tiga saham yang melemah, antara lain Astra International turun 0,7 persen ke level Rp7.050 per saham, Unilever Indonesia turun 0,91 persen ke level Rp49 ribu per saham, dan Telekomunikasi Indonesia turun 1,89 persen ke level Rp3.630 per saham.

"Saya masih optimis saham big cap masih bagus, bahkan untuk satu tahun ini Astra International bisa ke Rp10 ribu per saham, Unilever Indonesia diprediksi ke level Rp65 ribu per saham, HM Sampoerna dan Telekomunikasi Indonesia bisa ke Rp5 ribu per saham," papar Kiswoyo.

"Kemudian kinerja di kuartal II juga diperkirakan positif, karena kan konsumsi naik ada Lebaran lalu pemilihan kepala daerah (pilkada)," ungkap Kiswoyo.

Senada, Analis Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo mengamini keempat saham itu memang memiliki fundamental yang baik, termasuk juga Gudang Garam.

Ketika lima saham itu melemah mengikuti pergerakan IHSG, Lucky menyebut nilai kapitalisasi pasar lima saham emiten tersebut tidak ikut turun drastis.

"Kalau pasar terkoreksi tapi kapitalisasi pasar emiten masih terkendali artinya pelaku pasar masih mengapresiasi saham itu," tutur Lucky.

Kemudian, masing-masing emiten juga masih mampu membukukan laba bersih pada 2017 dan kuartal I 2018, tetapi bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya justru laba bersih tercatat turun.

Mengutip laporan keuangan masing-masing emiten, laba bersih Astra International turun 1,77 persen menjadi Rp4,98 triliun, Telekomunikasi Indonesia turun 14,22 persen menjadi Rp5,73 triliun, dan Unilever Indonesia turun 6,63 persen menjadi Rp1,83 triliun.

Selanjutnya, laba bersih HM Sampoerna turun 7,9 persen menjadi Rp3,03 triliun. Beruntung, perusahaan rokok lainnya, Gudang Garam mampu menaikkan laba bersihnya meski tipis 0,53 persen menjadi Rp1,89 triliun.

"Setidaknya mereka bertahan (ada laba bersih)," tutur Lucky. (lav/lav)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK