Bos BEI Sebut Perdagangan Pasar Modal Aman dari Aksi Teroris

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Selasa, 15/05/2018 11:01 WIB
Direktur Utama BEI Tito Sulistio memastikan pengamanan infrastruktur perdagangan pasar modal saat ini sangat ketat sehingga aman dari aksi terorisme. Direktur Utama BEI Tito Sulistio memastikan pengamanan infrastruktur perdagangan pasar modal saat ini sangat ketat sehingga aman dari aksi terorisme. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan bahwa pengamanan sistem teknologi informasi atau infrastruktur perdagangan pasar modal saat ini sangat ketat sehingga diharapkan tak akan terganggu jika terjadi aksi terorisme. Saat ini, Bursa Efek Indonesia sudah menambah pengamanan sistem di salah satu gedung yang dirahasiakan.

"Jadi kami ada back up, kalau pun di gedung ini (Gedung BEI) istilahnya tutup, maka perdagangan tetap jalan," ungkap Tito, Senin (14/5).

Ia juga sudah meminta tim perdagangan di gedung baru bertambah demi penjagaan yang lebih ketat. Hal itu juga ia lakukan terhadap tim data center di gedung baru.


"Jadi di gedung baru yang dirahasiakan itu tier tiga, kalau di gedung BEI tier dua," ucap Tito.


Dengan demikian, ia memastikan seluruh perdagangan bursa sejauh ini masih aman dan kondusif setelah teroris menyerang Surabaya dengan ledakan lima bom di wilayah yang berbeda.

"Insya Allah tugas saya untuk menjaga infrastruktur terus berjalan," terang Tito.

Ia juga menegaskan saham-saham pasar modal Indonesia masih terbilang likuid. Berdasarkan catatannya, sebanyak 85 persen dari total saham yang diperdagangankan di BEI terus ditransaksikan sehari-hari. Artinya, hanya 15 persen saham yang tidak diperdagangkan.

"Ada yang naik, ada yang turun. Tapi 85 persen masih diperdagangkan dengan baik," jelas Tito.


Secara keseluruhan, tragedi bom tidak memiliki efek jangka panjang terhadap perdagangan di pasar modal. Kali ini, Tito berpendapat pelemahan IHSG disebabkan ketidakpastian, baik dari dalam negeri dan luar negeri.

Faktor ketidakpastian dari luar negeri berasal dari rencana kenaikan suku bunga acuan, di mana hal itu membuat rupiah melemah hingga sempat menyentuh level Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat (AS).

"Kan intinya bagaimana menaikkan permintaan akan rupiah. Memang salah satunya mau tidak mau tingkatkan suku bunga, lihat Rapat Dewan Gubernur (RDG) 16-17 Mei," pungkas Tito. (agi/agi)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK