Dilansir dari Reuters, Jumat (18/5), kombinasi dari penurunan drastis pasokan minyak Venezuela, kekhawatiran terhadap sanksi AS yang dapat mengganggu ekspor dari Iran, dan merosotnya persediaan minyak global telah mendongkrak harga minyak hampir 20 persen sejak awal tahun.
Harga minyak mentah berjangka Brent sempat menyentuh level US$80,5 per barel sampai akhirnya ditutup menguat US$0,02 menjadi US$79,3 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak Januari 2017, OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, telah memangkas produksi minyak sebesar 1,8 juta barel per hari (bph). Kelanjutan dari kebijakan pasokan ini akan di bahas dalam pertemuan berikutnya di Wina, Austria pada Juni 2018 mendatang.
Menurut Lipow, penjualan minyak dari Iran juga berpotensi merosot sebesar 300 ribu hingga 500 ribu bph pada enam pekan ke depan.
Hal itu imbas dari keputusan Presiden AS Donald Trump bulan ini untuk keluar dari kesepakatan nuklir internasional dengan Iran. Pengenaan sanksi kembali dapat membatasi ekspor minyak mentah dari produsen terbesar ketiga OPEC itu.
Di AS, kenaikan produksi minyak dan ekspor telah membatasi reli harga. Akibatnya, selisih harga Brent dan WTI pada perdagangan kemarin mencapai US$8,2 per barel, terlebar sejak April 2015.
Kendati demikian, kenaikan produksi minyak mentah AS tak cukup untuk menghentikan reli harga. Menteri Energi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dalam catatannya menyatakan bahwa pasokan pasar dalam kondisi baik.
Dalam pernyataan gabungan, kedua Menteri menyalahkan tensi geopolitik internasional sebagai biang kerok volatilitas harga. Keduanya berencana untuk bertemu dengan Rusia di Saint Petersburg, Rusia, dalam sepekan ke depan untuk membahas kondisi pasar minyak.
Para analis dari Bernstein memperkirakan persediaan minyak global bakal menurun lebih tajam mengingat sudah mendekati puncak permintaan di musim panas. Penurunan stok tersebut dapat mengimbangi kenaikan produksi minyak shale.
Beberapa bank telah mengerek proyeksi harga minyak mereka beberapa hari terakhir, dipicu oleh pengetatan pasokan dan kuatnya permintaan.
Penopang harga minyak selanjutnya berasal dari Royal Dutch Shell yang menyatakan tengah menahan ekspor minyak mentah dari salah satu pipa utama di Nigeria.
EIA memperkirakan rata-rata permintaan minyak global tahun ini bakal di kisaran 99,2 juta bph. Sementara itu, bank AS Goldman Sachs meramal tingkat konsumsi bakal menembus 100 juta bph selama puncak periode musim panas. (lav)