Sentimen Positif Laporan OPEC Angkat Harga Minyak Dunia

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 15/05/2018 07:27 WIB
Sentimen Positif Laporan OPEC Angkat Harga Minyak Dunia Ilustrasi minyak dunia. (REUTERS/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia menanjak pada perdagangan Senin (14/5), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan dipicu oleh pernyataan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang berhasil menahan kelebihan pasokan minyak global.

Dilansir dari Reuters, Selasa (15/5), harga minyak mentah berjangka Brent menguat US$1,11 menjadi US$78,23 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate cuma terkerek US$0,26 menjadi US$70,96 per barel.


Selisih antara kedua harga acuan mencapai US$7,28, rentang ini terbesar sejak 12 Desember, seiring melonjaknya produksi minyak AS.
Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyatakan produksi minyak shale AS diperkirakan menembus 7,18 juta barel per hari (bph).

Para analis memperkirakan pertumbuhan produksi minyak AS masih akan berlangsung dan berkontribusi terhadap selisih harga minyak AS dan Brent.

"Pasar memiliki ancaman bahwa harga yang cukup tinggi akan mulai mengaktifkan 7.700 sumur yang telah dibor, tetapi belum rampung di 48 negara bagian (Lower 48 states)," ujar Kepala Analis Teknis ICAP TA Walter Zimmerman.
Di sisi lain, laporan terakhir OPEC juga mendongkrak harga (bullish). "Merosotnya produksi Venezuala secara absolut menunjukkan betapa lemahnya pasar terkait keseimbangan permintaan dan penawaran," John Kilduff, seorang partner dari Again Capital LLC.

Kendati demikian, OPEC dan sekutunya masih memangkas produksi lebih besar dari jumlah yang disepakati dalam perjanjian pemangkasan produksi.

Sementara itu, produksi dari negara produsen terbesar ketiga OPEC Iran masih dilanda ketidakpastian, menyusul rencana pembaruan sanksi dari AS.

"Jika minyak mentah dari Iran benar-benar berkurang, hal itu akan berdampak lebih besar terhadap harga Brent dibandingkan WTI," ujar Zimmerman.
Dampak sanksi AS terhadap produksi dan ekspor minyak Iran masih belum jelas. Hal itu sangat tergantung kepada reaksi negara konsumen minyak mentah utama dunia terhadap sanksi Negeri Paman Sam melawan Teheran yang baru akan dilakukan pada November.

"Jerman bakal melindungi perusahaan-perusahaannya dari sanksi AS, Iran mengatakan perusahaan raksasa minyak Total belum memutuskan untuk keluar dari ladang minyak (di Iran) dan sepertinya China bersiap untuk mengisi kekosongan yang diciptakan oleh AS," ujar Ahli Strategi Pasar AxiTrader Greg McKenna.

Analis Societe Generale Michael Wittner memperkirakan sanksi AS bakal menghilangkan minyak mentah Iran sekitar 400 ribu hingga 500 ribu bph dari pasar global.

Berdasarkan keterangan dari pelaku pasar yang mengutip data Genscape, persediaan di hub penyimpanan Cushing, Oklahoma yang merupakan titik pengiriman minyak mentah AS, merosot sekitar 410 ribu barel selama periode 8 Mei hingga 11 Mei.
"Ekspektasi bahwa persediaan minyak mentah pekan ini bakal berkurang membuat pasar sangat ketat," ujar Analis Price Future Group Phil Flynn. (lav/lav)