AAJI Sebut IHSG Anjlok Bikin Pendapatan Asuransi Jiwa Rontok

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Senin, 28/05/2018 19:56 WIB
AAJI Sebut IHSG Anjlok Bikin Pendapatan Asuransi Jiwa Rontok Pendapatan perusahaan asuransi pada Januari-Maret 2018 menurun, dipicu anjloknya IHSG di pasar modal dalam beberapa bulan terakhir. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendapatan perusahaan asuransi pada periode Januari-Maret 2018 menurun, dipicu anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pasar modal dalam beberapa bulan terakhir.

Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat pendapatan turun 7,8 persen menjadi Rp51,97 triliun pada Januari-Maret 2018, dari Rp56,37 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, hasil investasi terjun bebas hingga 124 persen dari Rp11,8 triliun menjadi minus Rp2,86 triliun.

"Hal ini karena kondisi pasar modal yang kurang baik di awal tahun. IHSG yang turun berimbas ke hasil investasi. Ini membuat keraguan investor untuk masuk," ujar Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim di kantor AAJI, Senin (28/5).
Sayang, hasil investasi ini tak sejalan dengan jumlah investasi yang ditanamkan. Sebab, jumlah investasi tercatat menanjak 16,8 persen dari Rp420,82 triliun pada Januari-Maret 2017 menjadi Rp491,52 triliun pada periode yang sama tahun ini.


Faktor lain yang turut membayangi penurunan pendapatan karena pembayaran klaim dan manfaat yang meroket hingga 43,5 persen dari Rp24,05 triliun menjadi Rp34,51 triliun. Meski total tertanggung sebenarnya menurun sekitar 1,6 persen dari 59,21 juta orang menjadi 58,27 juta orang.

Lebih rinci, peningkatan klaim berasal dari pertumbuhan klaim nilai tebus (surrender) sekitar 56,7 persen menjadi Rp20,8 triliun.

"Klaim ini memiliki proporsi terbesar di dalam pembayaran klaim dan manfaat mencapai 60,3 persen. Hal ini karena meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya.
Kemudian, klaim polis berakhir (maturity) melejit hingga 60,2 persen menjadi Rp3,4 triliun, klaim penarikan sebagian (partial withdrawal) naik 16,8 persen menjadi Rp4,51 triliun, klaim meninggal dunia meningkat 11,9 persen menjadi Rp2,24 triliun, klaim kesehatan (medical) naik 10,9 persen menjadi Rp2,43 triliun, dan klaim lainnya tumbuh 86,3 persen menjadi Rp1,13 triliun.

Klaim kesehatan terdiri dari klaim kumpulan sebesar 17,2 persen dan klaim kesehatan perseorangan 4,1 persen. "Sebanyak 55 persen dari klaim kesehatan berasal dari produk asuransi kesehatan kumpulan dan sisanya sebesar 45 persen berasal dari produk asuransi kesehatan perorangan," terangnya.

Kendati begitu, Hendrisman mengatakan pendapatan tak turun tajam karena pendapatan premi tumbuh sekitar 23,3 persen dari Rp42,58 triliun menjadi Rp52,49 triliun. Peningkatan pendapatan premi tersebut disumbang oleh total premi bisnis baru yang melaju kencang 36,7 persen dari Rp25,61 triliun menjadi Rp35 triliun.

Ada pula sumbangan pendapatan dari premi lanjutan yang mencapai Rp17,48 triliun, meningkat tiga persen dari Rp16,97 triliun. Selain itu, ada kontribusi dari pendapatan lain yang tumbuh 9 persen dari Rp1,25 triliu menjadi Rp1,36 triliun.

Sayangnya, dengan pendapatan yang menurun, Hendrisman masih enggan memberikan proyeksi pertumbuhan laba. Namun, ia meyakini secara tahunan nanti, laba asuransi masih bisa tumbuh positif.
"Saat ini kami belum bisa perkirakan laba karena angkanya masih temporer, ini masih bergerak. Tapi kami yakin laba tidak menurun sampai akhir tahun nanti (secara kumulatif tahunan)," pungkasnya.

Sementara itu, jumlah aset meningkat 15,6 persen dari Rp475,75 triliun menjadi Rp550,08 triliun. Lalu, jumlah agen berlisensi naik 4,7 persen dari 566,35 ribu orang menjadi 592,91 ribu orang.

Lebih rinci, keagenan meningkat 4,9 persen menjadi 540,05 ribu orang dari saluran keagenan dan 5,9 persen menjadi 28,46 ribu orang dari bancassurance. Sedangkan saluran alternatif justru menurun 0,7 persen menjadi 24,39 ribu orang. (lav/lav)