Dibuka Rp13.885, Rupiah Berpotensi Menguat Karena THR
Yuli Yanna Fauzie | CNN Indonesia
Rabu, 06 Jun 2018 08:51 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah dibuka pada posisi Rp13.885 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot hari ini, Rabu (6/6). Posisi ini melemah lima poin atau 0,04 persen dari perdagangan kemarin, Selasa (5/6) di posisi Rp13.880 per dolar AS.
Kendati dibuka melemah tipis, namun Analis Pasar Uang yang juga Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim memperkirakan rupiah akan kembali menguat pada hari ini. Pasalnya, ada sentimen cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) pekerja, baik yang Pegawai Negeri Sipil (PNS) hingga karyawan swasta.
Menurut dia, THR dapat menguatkan mata uang domestik karena membuat peredaran rupiah di masyarakat bertambah. Belum lagi, transaksi yang dilakukan masyarakat pada akhir Ramadan dan jelang Lebaran akan banyak menggunakan rupiah.
"Dengan pemerintah mengguyur THR, harapannya ini bisa melemahkan dolar AS juga, apalagi bila masyarakat membelanjakan THR itu," kata Ibrahim kepada CNNIndonesia.com.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada memperkirakan pergerakan rupiah dapat kembali menguat meski cenderung terbatas. Hal ini karena semua sentimen positif dari dalam negeri telah diserap pasar. Walhasil, pasar hanya tinggal menunggu sentimen baru.
Begitu pula dengan sentimen dari luar negeri, usai gejolak politik di Italia, kondisi euro Eropa dan dolar AS kembali stabil.
"Euro Eropa yang sebelumnya turun dalam seiring respons negatif terhadap kondisi politik di Italia, kini sudah mulai bergerak naik, sehingga dimanfaatkan pelaku pasar untuk kembali masuk," terangnya.
Sementara itu, mata uang Asia yang terpantau melemah bersama rupiah, hanyalah yen Jepang dengan pelemahan sebesar 0,08 persen. Sedangkan mata uang Asia lainnya justru menguat.
Mulai dari ringgit Malaysia menguat 0,01 persen, baht Thailand 0,01 persen, renmimbi China 0,03 persen, dolar Singapura 0,05 persen, won Korea Selatan 0,06 persen, dan peso Filipina 0,15 persen.
Sedangkan mata uang negara maju kompak menguat, rubel Rusia 0,05 persen, franc Swiss 0,05 persen, euro Eropa 0,06 persen, poundsterling Inggris 0,11 persen, dolar Kanada 0,18 persen, dan dolar Australia 0,21 persen. (lav) Add
as a preferred
source on Google
Kendati dibuka melemah tipis, namun Analis Pasar Uang yang juga Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim memperkirakan rupiah akan kembali menguat pada hari ini. Pasalnya, ada sentimen cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) pekerja, baik yang Pegawai Negeri Sipil (PNS) hingga karyawan swasta.
Menurut dia, THR dapat menguatkan mata uang domestik karena membuat peredaran rupiah di masyarakat bertambah. Belum lagi, transaksi yang dilakukan masyarakat pada akhir Ramadan dan jelang Lebaran akan banyak menggunakan rupiah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:IHSG Bergerak Stagnan pada Tengah Pekan |
"Dengan pemerintah mengguyur THR, harapannya ini bisa melemahkan dolar AS juga, apalagi bila masyarakat membelanjakan THR itu," kata Ibrahim kepada CNNIndonesia.com.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada memperkirakan pergerakan rupiah dapat kembali menguat meski cenderung terbatas. Hal ini karena semua sentimen positif dari dalam negeri telah diserap pasar. Walhasil, pasar hanya tinggal menunggu sentimen baru.
Lihat juga:Rupiah Turun Tipis ke Rp13.880 per Dolar AS |
"Euro Eropa yang sebelumnya turun dalam seiring respons negatif terhadap kondisi politik di Italia, kini sudah mulai bergerak naik, sehingga dimanfaatkan pelaku pasar untuk kembali masuk," terangnya.
Sementara itu, mata uang Asia yang terpantau melemah bersama rupiah, hanyalah yen Jepang dengan pelemahan sebesar 0,08 persen. Sedangkan mata uang Asia lainnya justru menguat.
Mulai dari ringgit Malaysia menguat 0,01 persen, baht Thailand 0,01 persen, renmimbi China 0,03 persen, dolar Singapura 0,05 persen, won Korea Selatan 0,06 persen, dan peso Filipina 0,15 persen.
Sedangkan mata uang negara maju kompak menguat, rubel Rusia 0,05 persen, franc Swiss 0,05 persen, euro Eropa 0,06 persen, poundsterling Inggris 0,11 persen, dolar Kanada 0,18 persen, dan dolar Australia 0,21 persen. (lav) Add
as a preferred source on Google