Apindo: Hasil Pilkada Serentak Tentukan Nasib Dunia Usaha

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Rabu, 27/06/2018 13:28 WIB
Apindo: Hasil Pilkada Serentak Tentukan Nasib Dunia Usaha Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 yang digelar hari ini, Rabu (27/6), akan menentukan perkembangan dunia usaha ke depan. Sebab, pergantian pemimpin daerah bisa mengubah kebijakan yang tengah berjalan saat ini.

Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum Apindo mengatakan kebijakan yang mudah berubah misalnya soal perizinan, masa konsesi suatu proyek, hingga penggunaan aset pemerintah daerah (Pemda).

"Kebijakan yang sudah ada jadi bisa tetap, bisa berubah. Bagus kalau berubah lebih baik, tapi kalau lebih susah, bagaimana?" ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/6).



Untuk itu, ia berharap agar para pemimpin terpilih nanti bisa konsisten dalam mereformasi kebijakan agar lebih baik dan berdampak nyata kepada dunia usaha dan perekonomian negeri. Bila tidak, bukan tidak mungkin dunia usaha akan tetap menahan diri (wait and see) dalam melakukan ekspansi ke depan.

"Bukannya tidak mau ekspansi dan investasi, tapi kalau kondisinya tidak mendukung, adanya malah merugi. Apalagi tekanan global juga besar," katanya.

Senada, Bhima Yudhistira Adinegara, ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) mengatakan dunia usaha memang diselimuti kekhawatiran terkait proses Pilkada, karena faktor keamanan dan konsistensi kebijakan ke depan.


"Bahkan kondisi ini nampaknya akan terus sampai Pemilihan Presiden pada 2019 mendatang. Jadi sepertinya mereka akan wait and see cukup lama," ucapnya.

Hal ini diprediksi akan menahan pertumbuhan industri dengan rerata di kisaran 4,4-4,7 persen dan terasa di semua sektor. "Kelihatannya sulit tembus sampai di atas 5 persen," imbuhnya.

Pasalnya, tekanan kepada industri tak hanya dari sisi Pilkada, namun juga dari kondisi ekonomi saat ini. Misalnya, daya beli masyarakat yang belum bergairah, investasi yang tertunda karena ketidakpastian, dan era bunga kredit mahal.


Belum lagi, ada tekanan dari faktor global, misalnya harga bahan baku impor yang meningkat, rupiah yang terperosok, hingga tensi perang dagang yang memanas.
"Semua sentimen ini khususnya berdampak ke industri manufaktur," pungkasnya. (lav/lav)