DBS dan Danamon Bank Paling Minim Danai Proyek Lingkungan

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 28/06/2018 15:27 WIB
DBS dan Danamon Bank Paling Minim Danai Proyek Lingkungan Aktivitas penghitungan uang di bank. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank DBS dan Bank Danamon menjadi bank yang paling minim komitmen dan konsistensinya dalam menyalurkan pendanaan yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan hidup dan kehutanan (green banking).

Hal ini tercermin dari peringkat kedua bank yang paling rendah dalam Indeks Investasi Hijau (IIH), yaitu masing-masing 39,82 dan 37,04.

Indeks tersebut dikeluarkan oleh International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) dan Indonesian Working Group on Forest Finance (IWGFF). Kedua lembaga membentuk indeks dari hasil analisa Laporan Tahunan dan Laporan Keberlanjutan Periode 2016 dari 12 bank di Tanah Air.



Mereka ialah Citibank, Rabobank, BCA, CIMB Niaga, BNI, Mandiri, BRI, Bank Sumitomo, Bank Permata, Panin Bank, DBS, dan Danamon.

Juniati Gunawan, salah satu peneliti yang terlibat dalam tim analisa kedua lembaga mengatakan DBS dan Bank Danamon menempatkan tempat terendah karena paling sedikit memenuhi empat prinsip yang menjadi tolak ukur penilaian.

"Dari hasil laporan, hasilnya memang jelek karena belum benar-benar memenuhi tujuan yang dirancang oleh regulator dan mereka sendiri. Takutnya, memang laporan ini diberikan hanya sekedar memenuhi kewajiban pelaporan mereka saja," ujar Juniati usai memaparkan IIH di kawasan Menteng, Kamis (28/6).


Ia merinci, empat prinsip yang dijadikan tolak ukur. Pertama, pengelolaan risiko dan operasional yang memperhatikan aspek perlindungan lingkungan hidup dan sosial dalam manajemen risiko. Kedua, pengembangan sektor ekonomi prioritas berkelanjutan berupa pemberian pendanaan yang inklusif dalam kegiatan usaha yang berkelanjutan dan melindungi kawasan hutan.

Ketiga, tata kelola lingkungan sosial dan pelaporan dari pendanaan sektor industri berbasis lahan. Keempat, peningkatan kapasitas dan kemitraan kolaboratif dengan mengedepankan penhelolaan risiko, tata kelola, dan pengembangan sektor ekonomi.

"Tidak hanya kedua bank itu, secara rata-rata 12 bank lemah pada prinsip kedua dan ketiga," terangnya.

Untuk itu, hasil penelitian setidaknya memberikan tiga rekomendasi kepada bank dan regulator. Pertama, bank yang beroperasi di Indonesia perlu segera mengadopsi dan mengimplementasikan praktik investasi hijau yang saat ini menjadi arus utama global perbankan.

"Saat ini tekanan dari global sudah mengarah ke situ, jadi mau tidak mau, mereka harus bergerak. Mereka harus bisa memberikan pendanaan yang bankable, namun sekaligus sustainability. Karena jangan sampai mereka rugi, tapi jangan merugikan juga," katanya.


Kedua, perlu ada pembentukan tim khusus yang memberi pelatihan dan mengawasi implementasi praktik investasi hijau. Tim ini melibatkan regulator, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian/Lembaga terkait. Lalu, juga menyertakan peneliti dan perwakilan bank.

Ketiga, regulator perlu memperketat kebijakan hingga sanksi. "Saat ini belum ada sanksi, baru ada penghargaan kepada yang sudah menjalankan dengan baik," tuturnya.

Citibank dan Rabobank Tertinggi
Di puncak indeks, ada Citibank dan Rabobank yang menjadi bank paling berkomitmen dan konsisten menjalankan green banking. Kedua bank masing-masing memperoleh indeks 79,08 dan 75,95.

Menurut Juniati, kedua bank paling unggul pada prinsip pengelolaan risiko dan peningkatan kapasitas kemitraan. Selain itu, kedua bank juga sudah mampu menerapkan prinsip pemberian pendanaan yang inklusif dan pemetaan ekonomi yang berkelanjutan.

"Bank telah menunjukkan komitmen dengan cara menberikan pelatihan kepada stafnya dalam menilai risiko manajemen pendanaan terhadap lingkungan dalam pemberian kredit," jelasnya.

Sedangkan bank lain yang berada di kasta menengah, sejatinya sudah memahami prinsip perlindungan lingkungan dan ekonomi berkelanjutan. Namun, mereka belum sampai pada penyediaan dana yang secara khusus dan inklusif.


"Boleh dikatakan, bank ini sudah mempunyai produk keuangan yang terintegrasi pada nilai green banking secara internal dan eksternal, tapi belum maksimal," katanya.

Bank di indeks tengah ini, yaitu BCA dengan indeks 57,27, CIMB Niaga 54,49, BNI 51,15, Bank Mandiri 51,15, BRI 51,15, Bank Sumitomo 49,69, Bank Permata 42,95, dan Panin Bank 41,49. (lav/lav)