Pemerintah Hati-Hati Tetapkan Target Pertumbuhan Ekonomi 2019

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 03/07/2018 12:19 WIB
Pemerintah Hati-Hati Tetapkan Target Pertumbuhan Ekonomi 2019 Kebijakan suku bunga AS dan perang dagang yang mereka kobarkan membuat pemerintah berhati-hati menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun depan. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengklaim bahwa pemerintah akan berhati-hati dalam menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun depan.

Walaupun pemerintah saat ini sudah memasang target pertumbuhan sebesar 5,2 persen sampai 5,6 persen, namun pemerintah tidak akan gegabah dalam membuat target. Kehati-hatian disebabkan oleh kondisi ekonomi global pada 2019 mendatang.

Sri Mulyani mengatakan ekonomi global tahun depan masih akan terimbas oleh kebijakan suku bunga The Fed dan perang dagang yang dikobarkan Amerika Serikat.


 
Dinamika perang dagang antara Amerika Serikat versus China dikhawatirkan akan menimbulkan efek domino, termasuk ke kinerja perdagangan dalam negeri.

"Seluruh situasi ini akan berjalan sampai tahun depan, mungkin delapan bulan hingga sembilan bulan ke depan sampai seluruh bunga Fed normal," katanya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin (3/7) malam.

Ani menuturkan pemerintah telah menebar insentif fiskal berbentuk pengurangan penghasilan kena pajak bagi perusahaan berorientasi ekspor.

"Penurunan pajak ekspor dan tax allowance di tengah perang dagang tersebut, kami harap bisa menaikkan investasi berorientasi ekspor," terang dia.


Ani mengakui investasi kemungkinan besar masih menghadapi tantangan. Apalagi, baru- baru ini Bank Indonesia (BI) juga baru menaikkan suku bunga acuan mereka sebesar 100 basis poin. 
 
"Tentu akan berpengaruh ke investasi dan pertumbuhan ekonomi, makanya Nota keuangan 2019 nanti kami harus hati-hati menetapkan target pertumbuhan ekonomi dan derivasinya ke pajak," jelasnya.

Kehati-hatian, sambung Sri Mulyani, juga dilakukan dengan mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2018 dan 2019 yang kemungkinan tidak akan mencapai 3,9 persen. 

(agt/bir)