Arcandra Yakin Kenaikan Harga Pertamax Tak Ganggu Daya Beli

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Sabtu, 07/07/2018 13:36 WIB
Arcandra Yakin Kenaikan Harga Pertamax Tak Ganggu Daya Beli Menurut Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, BBM nonsubsidi yang mengalami kenaikan harga hanya 14 persen dari total kebutuhan BBM di Tanah Air. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar yakin kenaikan harga beberapa jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi awal Juli 2018 tidak akan berdampak pada daya beli masyarakat. Pasalnya, mayoritas BBM yang dikonsumsi masyarakat tidak mengalami kenaikan harga.

Tercatat, BBM nonsubsidi yang mengalami kenaikan jumlahnya hanya 14 persen dari total kebutuhan BBM di Indonesia.

"Dari 100 persen kebutuhan BBM kita, Premium, Pertalite, Solar dan minyak tanah tidak naik. Ini mewakili 86 persen kebutuhan masyarakat di Indonesia. Ini tidak akan terpengaruh dengan kemampuan konsumsi secara umum," kata Arcandra dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan di Jakarta, Jumat (6/7).


Per 1 Juli 2018, PT Pertamina (Persero) mengerek harga jual sejumlah BBM nonsubsidi. Di wilayah Jawa-Madura-Bali (Jamali), harga BBM jenis Pertamax naik dari Rp8.900 menjadi Rp9.500 per liter sedangkan Pertamax Turbo naik Rp600 per liter menjadi Rp10.700 per liter.

Pertamina juga menaikkan harga Pertamina Dex sebesar Rp500 menjadi Rp10.500 per liter dan Dexlite naik Rp900 menjadi Rp9 ribu per liter.


Selain Pertamina, kenaikan harga BBM juga dilakukan perusahaan minyak lain; Shell, Total, dan Vivo.

Arcandra mengatakan kebijakan tersebut dilakukan demi perbaikan pengelolaan minyak dan gas baik dari sisi hulu maupun hilir dan menciptakan keadilan  energi.

"Kami di pemerintah berusaha sekuat tenaga agar adil buat bangsa dan investasi. Ini agar menerima manfaat yang sebesar-besarnya dalam pengelolaan migas di Indonesia," ujarnya.

Masyarakat yang mengkonsumsi BBM dengan kualitas oktan (RON) yang lebih baik adalah masyarakat yang mampu. Sementara, masyarakat pengkonsumsi 86 persen BBM sisanya tidak akan terkena dampak dari kenaikan harga.


Menurut Arcandra kenaikan harga BBM nonsubsidi yang ditentukan badan usaha tersebut sudah mempertimbangkan fluktuasi harga minyak mentah dunia.

"Kalau yang RON 92 ke atas itu sudah mendekati harga keekonomian dunia. Justru yang Premium, Solar tentu masih jauh di bawah dengan harga minyak mentah dunia yang sekarang cukup tinggi di atas US$70-an per barel," kata Arcandra.

Padahal, minyak mentah merupakan komponen utama dalam pembuatan BBM RON 92 ke atas sehingga bisa mempengaruhi biaya pemrosesan.


Terkait skema pengumuman harga, Arcandra mengakui badan penyalur BBM hanya perlu melapor dan tidak perlu lagi meminta persetujuan pemerintah sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 34 Tahun 2018 tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM. Namun, Pemerintah tetap bisa melakukan intervensi apabila harga yang ditetapkan oleh badan usaha tersebut tidak sesuai dengan peraturan, seperti melebih marjin sebesar 10 persen.

Meski begitu, Arcandra menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen tidak akan menaikkan harga BBM yang sebagian besar dikonsumsi masyarakat.

"Kami jamin apa yang kami janjikan sampai akhir tahun bahwa harga BBM subsidi tetap. Tidak naik," katanya. (agi/agt)