Gangguan Pasok di Kanada, Iran, dan Libya Kerek Harga Minyak

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 10/07/2018 07:25 WIB
Gangguan Pasok di Kanada, Iran, dan Libya Kerek Harga Minyak Ilustrasi kilang minyak mentah. (REUTERS/Edgar Su)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia menguat pada perdagangan Senin (9/7), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan dipicu oleh kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari sejumlah negara produsen minyak yang diperkirakan masih terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

Dilansir dari Reuters, Selasa (10/7), harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) naik tipis sebesar US$0,05 menjadi US$73,85 per barel. Kenaikan harga utamanya disebabkan oleh gangguan pasokan dari salah satu produsen di Kanada yang diperkirakan bakal berlangsung hingga September.

Harga minyak mentah berjangka Brent juga menguat sebesar US$0,96 menjadi US$78,07 per barel. Hal itu disebabkan oleh pengenaan sanksi AS terhadap Iran dan turunnya pasokan dari Libya.



"Kita (pelaku pasar) terus melihat pasar minyak ditopang, dengan tumbuhnya kekhawatiran terhadap sanksi pada Iran di mana sekarang kilang Eropa dan Korea mengurangi pembelian mereka ke hampir nol," ujar Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow.

Pemerintah AS menyatakan akan memangkas ekspor minyak mentah dari Iran, produsen minyak terbesar ke-5 dunia, ke level nol pada November mendatang. Konsekuensinya, negara produsen minyak besar lain harus memproduksi lebih banyak.

"Ada kekhawatiran terhadap kenaikan produksi Arab Saudi dan Rusia yang mungkin hampir cukup untuk melampaui, tidak hanya (gangguan) produksi Iran, tetapi juga gangguan pasokan yang terjadi di Libya, Nigeria dan Kanada," ujar Lipow.


Di Kanada, gangguan terhadap fasilitas pasir minyak yang mengalirkan 360 ribu barel per hari (bph) milik Syncrude telah memangkas aliran ke hub pengiriman minyak berjangka AS di Cushing, Oklahoma.

Suncor Energy, selaku pemilik saham mayoritas Syncrude menyatakan sebagian produksi Syncrude bakal kembali pada Juli.

Namun, operasional tidak akan sepenuhnya pulih hingga September, atau lebih lambat dari perkiraan semula. Informasi ini, menurut partner Again Capital LLC John Kilduff, menambah volatilitas di pasar minyak mentah AS.

Berdasarkan data Badan Admnistrasi Informasi Energi AS, persediaan minyak mentah di hub pengiriman Cushing menyentuh level terendahnya dalam tiga setengah tahun terakhir pekan lalu.

Sementara itu, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS menyatakan manajer keuangan mengerek taruhan mereka pada posisi harga minyak mentah AS bakal naik (bullish) pada pekan yang berakhir 3 Juli lalu.


Di Libya, Kepala Korporasi Minyak Nasional Libya Mustafa Sanalla menyatakan bahwa produksi minyak mentah telah berkurang lebih dari separuh dalam lima bulan menjadi 570 ribu bph.

"Esok hari (produksi minyak) akan berkurang dan lusa akan berkurang kembali. Kami menuju level yang semakin rendah," ujar Sanalla.

Arab Saudi, sesama anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), dan Rusia bulan lalu telah sepakat untuk meningkatkan produksi untuk menahan lonjakan harga minyak dan mengatasi masalah kekurangan pasokan dari berbagai negara, termasuk Libya.

Di sisi lain, pasar khawatir jika Arab Saudi menutup kekurangan pasokan dari Iran. Arab Saudi akan menggunakan kapasitas cadangan global dan membuat pasar lebih rentan terhadap penurunan produksi lebih jauh atau yang tak terduga. (lav/lav)