Terancam Pailit, Bursa Efek Panggil Manajemen Tiga Pilar

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Jumat, 13/07/2018 11:25 WIB
Terancam Pailit, Bursa Efek Panggil Manajemen Tiga Pilar Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sudah jatuh tertimpa tangga. Peribahasa itu mungkin bisa disematkan kepada PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA). Setelah tersandung masalah persaingan usaha, kini perusahaan terancam pailit usai PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat menjadi selective default (SD) dari sebelumnya CCC.

Penurunan peringkat itu didasari atas penundaan pembayaran bunga obligasi dan sukuk yang jatuh tempo pada 5 Juli 2018. Lebih rinci, peringkat Obligasi TPS Food I/2013 dan Sukuk Ijarah TPS Food I/2013 diturunkan menjadi Default (D) dari CCC.

Total bunga yang harus dibayarkan pada kedua surat utang itu berjumlah Rp46,12 miliar. Angka itu terdiri dari Obligasi TPS Food I/2013 sebesar Rp30,75 miliar dan Sukuk TPS Food I/2013 sebesar Rp15,37 miliar.


Melihat kondisi Tiga Pilar Sejahtera Food ini, pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku wasit pasar modal tentu tak tinggal diam. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Nyoman Gede Yetna menyatakan telah memanggil manajemen perusahaan tersebut untuk dimintai keterangan terkait penundaan pembayaran bunga obligasi dan sukuk.
"Bursa telah melakukan dengar pendapat dan permintaan penjelasan, batas waktu mereka menyampaikan tanggapan adalah minggu ini," ucap Nyoman.
Dalam pertemuan itu, Nyoman mengakui belum ada rencana rinci kelanjutan pembayaran bunga obligasi dan sukuk emiten konsumsi tersebut. Namun, ia memastikan Tiga Pilar Sejahtera Food akan melakukan restrukturisasi demi bisa membayar utangnya.
"Kami tunggu detil penjelasannya," terang Nyoman.
Ia mengaku juga mengikuti perkembangan persoalan Tiga Pilar Sejahtera Food hingga ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Namun, ia belum bisa memastikan apakah Tiga Pilar Sejahtera Food benar-benar mendekati arah pailit dan berpotensi delisting.
"Kami lihat perkembangannya ya, kami tunggu perkembangan di KPPU nanti," pungkas Nyoman.


"Ini kan karena bisnis berasnya off, sementara mereka dulu berani berutang dengan harapan bisnis berasnya menghasilkan, sehingga bisa membayar utang," ucap Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan kepada CNNIndonesia.com, Kamis (12/7).


Persoalan Tiga Pilar Sejahtera Food sebenarnya bermula pada pertengahan tahun lalu, di mana lini usaha beras yang di bawahi PT Indo Beras Unggul (IBU) diterpa masalah penjualan beras subsidi sebagai beras premium.

Akibatnya, perusahaan memutuskan untuk menyetop bisnis beras. Keputusan ini jelas mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan karena kontribusi pendapatan terbesar berasal dari bisnis pengolahan beras.


Merujuk pada laporan keuangan Tiga Pilar Sejahtera Food pada kuartal III 2017, total penjualan tercatat sebesar Rp4,1 triliun atau turun dari periode yang sama pada 2016 yang mencapai Rp4,97 triliun.

Dari total penjualan itu, bisnis pengolahan beras menyumbang sekitar 50 persen, yakni Rp2,38 triliun. Sementara, sisanya berasal dari bisnis makanan pokok dan makanan konsumsi.

Seperti diketahui, perusahaan juga menjual beberapa produk makanan, antara lain Taro, Mie Cap Ayam 2 Telor, Bihun Superior, dan Mie Kremezz.

"Sebenarnya, Tiga Pilar Sejahtera Food ini juga kan berencana divestasi bisnis berasnya tapi mundur sampai sekarang," imbuh Alfred.


Penjualan aset itu otomatis akan membantu perusahaan untuk membayar utang-utangnya. Menurut Alfred, total liabilitas atau kewajiban Tiga Pilar Sejahtera Food dari bisnis berasnya saja mencapai sekitar Rp3,4-Rp3,6 triliun, sedangkan asetnya sebesar Rp4,5 triliun.

"Ya masih ada untung sih kalau dijual, tapi kan penjualan biasanya tak sesuai harga buku melainkan di bawahnya atau lebih murah," jelas Alfred.

Selanjutnya, Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan persoalan Tiga Pilar Sejahtera Food kian rumit setelah dua krediturnya mengajukan proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada pekan lalu akibat penundaan pembayaran bunga obligasi dari Obligasi TPS Food I/2013.

"Dua krediturnya itu PT Sinarmas Aset Management dan PT Asuransi Jiwa Sinarmas," kata Edwin.

Setelah dua kreditur itu, Edwin memprediksi masih akan ada beberapa kreditur lainnya yang akan mengajukan proses PKPU. Sebab, Tiga Pilar Sejahtera Food ini masih memiliki beberapa kewajiban pembayaran bunga obligasi lainnya.

"Nanti pertengahan Juli masih akan ada yang jatuh tempo, nah itu dari mana asal dananya karena yang sebelumnya saja belum bayar kan ini," kata Edwin.


Harga Berpotensi ke Rp50 per Saham

Penundaan pembayaran bunga obligasi dan sukuk mengakibatkan saham perusahaan disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Walhasil, perdagangan saham Tiga Pilar Sejahtera Food berhenti sejak 5 Juli kemarin.

Pada saat itu, harga sahamnya berada di level Rp168 per saham atau anjlok 5,08 persen dari harga sebelumnya Rp177 per saham.

"Sampai saat ini memang masih disuspensi, tapi nanti ketika dibuka berpotensi ke Rp50 per saham," tutur dia.

Bukan tanpa sebab, berbagai persoalan bisnis pengolahan beras hingga kegagalan membayar bunga obligasi telah membuat tata kelola perusahaan terkesan buruk.

Pemegang saham Tiga Pilar Sejahtera Food pun mengkhwatiran prospek perusahaan ke depannya. Untuk itu, jika nanti BEI membuka kembali perdagangan saham itu, maka ada potensi banyak pelaku pasar yang menjual sahamnya.

"Ya daripada nyangkut di Rp50 per saham, mending dijual dulu daripada meninvestasikan dana di perusahaan yang tata kelolanya buruk," ucap Edwin.


Setali tiga uang, Alfred juga mengamini harga saham Tiga Pilar Sejahtera Food akan menurun setelah suspensi saham dibuka kembali. Namun, ia bilang pergerakan harga saham akan bergantung pada upaya penyelesaian pembayaran bunga obligasi oleh perusahaan.

"Kan sampai sekarang memang masih belum jelas, nanti regulator harus bantu informasinya agar clear," terang dia.

Berdasarkan keterbukaan informasi di BEI, perusahaan mengaku sedang berupaya melakukan restrukturisasi obligasi dan sukuk TPS Food I Tahun 2013.


"Kami akan menginformasikan kembali mengenai proses tersebut," tulis Direktur Utama Tiga Pilar Sejahtera Food Joko Mogoginta dalam surat kepada BEI.

Ia menambahkan pelaku pasar akan melihat prospek lebih lanjut dari bisnis perusahaan tahun ini, terkait apakah masih akan membukukan kerugian seperti tahun lalu.

Info saja, perusahaan merugi hingga Rp551,9 miliar pada 2017. Angka itu berbanding terbalik dibandingkan dengan 2016 lalu yang masih membukukan laba bersih sebesar Rp593,47 miliar. (lav/bir)