Ekspektasi Kenaikan Pasokan Tekan Harga Minyak

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 16/07/2018 07:06 WIB
Ekspektasi Kenaikan Pasokan Tekan Harga Minyak Pada perdagangan akhir pekan lalu, harga minyak berjangka Brent ditutup di level US$75,33 per barel atau merosot sekitar 2,7 persen dalam sepekan. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia kembali merosot sepanjang pekan lalu. Pelemahan dipicu oleh ekspektasi meningkatnya pasokan global usai beroperasinya kembali pelabuhan minyak di Libya dan terbukanya peluang ekspor minyak dari Iran di tengah sanksi AS.

Dilansir dari Reuters pada Senin (16/7), harga minyak mentah berjangka Brent pada perdagangan Jumat (13/7) lalu ditutup di level US$75,33 per barel atau merosot sekitar 2,7 persen dalam sepekan.

Penurunan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) sekitar 3,9 persen menjadi US$71,01 per barel.


Secara harian, kedua harga minyak mentah acuan tercatat naik. Harga Brent menanjak US$0,88 per barel dibandingkan sehari sebelumnya dan harga WTI menguat US$0,66 per barel.

Di awal pekan, harga minyak melemah akibat beroperasinya kembali pelabuhan minyak utama di Libya. Harga minyak juga tertekan oleh pernyataan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo yang menyatakan bahwa AS mempertimbangkan untuk memberikan pengecualian sanksi terhadap beberapa pembeli minyak mentah AS. Artinya, sejumlah negara kemungkinan bisa telah mengimpor minyak mentah dari Iran.

Ketakutan terhadap memanasnya sengketa perdagangan antara AS dan China yang dapat menghantam pertumbuhan ekonomi global juga membuat pelaku pasar menahan diri.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak menyatakan sejumlah negara produsen minyak dunia, termasuk Rusia, mungkin bakal meningkatkan produksi untuk menahan turunnya jumlah pasokan minyak dunia.

Pada Juni lalu, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyatakan akan merespon pengetatan pasar dengan memberikan relaksasi terhadap kesepakatan pemangkasan produksi. Sebagai catatan, kesepakatan pemangkasan produksi telah dijalankan sejak Januari 2017.

Pada Jumat lalu, harga minyak mendapat tekanan dari pemberitaan bahwa pemerintah AS tengah aktif mempertimbangkan untuk menekan Cadangan Minyak Strategis AS yang akan menambah pasokan di pasar. Negeri Paman Sam memiliki cadangan minyak sekitar 660 juta barel, cukup untuk tiga hingga empat bulan pasokan.


"Orang-orang tengah membicarakan hal itu (penggunaan cadangan minyak strategis AS) sebagai rumor," ujar Direktur Energi Berjangka Mizuho Robert Yawger di New York.

Namun, Yawger menilai tidak ada hal baru yang belum dibicarakan selama beberapa pekan terakhir.

Sementara, sejumlah faktor mampu menahan pelemahan harga minyak pekan lalu.

Di Norwegia, ratusan pekerja di rig minyak dan gas bumi (migas) lepas pantai (offshore) Norwegian menggelar aksi mogok pada Selasa (10/) lalu akibat menolak proposal kesepakatan terkait upah kerja. Aksi mogok tersebut menutup operasional lapangan migas Knarr milik Shell yang memproduksi sekitar 23.900 barel setara minyak per hari.


Adapun di Irak, sekitar 100 orang demonstran yang menuntut pekerjaan dan pelayanan lebih baik menutup akses ke pelabuhan komoditas Umm Qasr yang terletak di dekat kota Basra bagian selatan pada jumat lalu.

"Turunnya pasokan minyak secara terus menerus dari Venezuela dan aksi mogok di Norwegian dan Irak memicu sentimen kenaikan harga (bullish)," ujar Analis Energi Senior Interfax Energy Abhishek Kumar di London.

Dari sisi permintaan, impor minyak mentah China merosot pada Juni lalu merosot ke level terendah sejak Desember 2017 atau menurun selama dua bulan berturut-turut. Penurunan permintaan dipicu oleh menurunnya margin serta gejolak harga minyak yang membuat operator kilang independen menahan pembelian minyak mentah.

Di AS, berdasarkan data Baker Hughes jumlah rig minyak tetap stabil sebanyak 863 rig pekan lalu. Laju pertumbuhan jumlah rig telah melambat selama bulan lalu dengan turunnya harga minyak mentah mulai akhir Mei hingga akhir Juni. (agi/agi)