Rupiah Lesu, Beban Produksi PLN Bengkak Hingga Rp10 Triliun

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 12/07/2018 12:01 WIB
Rupiah Lesu, Beban Produksi PLN Bengkak Hingga Rp10 Triliun Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Perusahaan Listrk Negara (Persero) atau PLN mengaku beban biaya produksinya membengkak hingga lebih dari Rp10 triliun pada semester I 2018 karena pengaruh depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dan lonajakan harga minyak.

Direktur Utama PLN Sofyan Basyir menyebut sebagian besar pembengkakan biaya operasional berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah, yakni mencapai Rp6 triliun.

Pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan batu bara yang digunakan untuk pembangkit listrik. Ia bilang, setiap depresiasi Rp100 per dolar AS, biaya produksi PLN naik Rp1,3 triliun.



Sebetulnya, rugi kurs pada semester pertama bisa menembus Rp7 triliun. Hanya saja, PLN berhemat sekitar Rp1 triliun setelah pemerintah memberlakukan kebijakan harga batu bara khusus bagi kebutuhan listrik sebesar US$70 per ton.

"Sejak kebijakan (pemenuhan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri) domestic market obligation (DMO), sudah ada untung sekitar Rp100 miliar, dan Juni sudah tercatat Rp1,1 triliun. Jadi, rugi ya Rp6 koma sekian triliun," jelasnya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu (11/7)

Makanya, ada kekhawatiran bahwa laba PLN akan tertekan lagi hingga akhir tahun. Terlebih, pemerintah juga tidak berencana untuk menaikkan tarif listrik.


Sebelumnya, kenaikan biaya produksi juga menekan laba PLN hingga 71,67 persen, dari Rp15,6 triliun pada 2015 menjadi hanya Rp4,42 triliun pada tahun lalu.

"Sebenarnya, komponen kenaikan harga minyak, inflasi, batu bara, dan kurs ini masih bisa kami tahan. Tapi, laba kami terjun bebas," terang dia.

Di sisi lain, Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto mengatakan PLN sebetulnya masih membukukan laba operasional, kendati biaya kurs membengkak. Peluang mengurangi kerugian kurs masih bisa terjadi sampai sisa tahun ini karena kurs sifatnya fluktuatif.

Hanya saja, ia tak mau membeberkan nilai laba operasi pada semester I 2018. Hal itu, lanjut Sarwono, masih akan menunggu hasil audit dari auditor independen.


"Jadinya, yang paling utama itu bahwa kami masih punya laba operasi. Sudah itu saja. Kalau kurs itu kan naik turun saja, yang paling penting operasinya masih bagus," katanya.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah sudah terdepresiasi 6,36 persen antara Januari hingga Juni. Hingga Selasa (11/7), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah mencapai Rp14.391 atau lebih tinggi dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yakni Rp13.400. (lav/bir)