Bandara Soetta Bakal Punya Terminal Maskapai Biaya Rendah

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 23/07/2018 18:32 WIB
Bandara Soetta Bakal Punya Terminal Maskapai Biaya Rendah Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II akan merevitalisasi Terminal 1 dan Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta menjadi terminal maskapai berbiaya rendah (Low Cost Carrier/LCC). Proyek ini ditargetkan paling cepat rampung di 2020.

"Terminal 1 (Bandara Soekarno-Hatta) nanti untuk penerbangan (LCC) domestik dan Terminal 2 untuk penerbangan (LCC) internasional," ujar Vice President Corporate APII Yado Yarismano saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (23/7).

Saat ini, sebagian maskapai yang memberikan layanan penuh (full-service) masih memanfaatkan Terminal 1 dan 2 sebagai terminal angkut dan menurunkan penumpang. Misalnya, maskapai penerbangan dari Group Lion Batik Air yang masih memanfaatkan Terminal 1 C.



Ke depan, seluruh maskapai full-service akan direlokasi ke Terminal 3.

Yado menjelaskan revitalisasi akan dilakukan secara bertahap mulai akhir tahun ini atau awal tahun depan. Pembangunan dilakukan bertahap karena pihaknya tidak ingin menghentikan kegiatan operasional terminal secara keseluruhan.

Saat ini, desain dan persiapan proyek masih dilakukan. Untuk Terminal 1, proyek revitalisasi akan diawali dari Terminal I C hingga seluruh terminal. Kemudian, untuk Terminal II, proyek akan dimulai dari Terminal II D.

Langkah revitalisasi kedua terminal menjadi Low Cost Carrier Terminal (LCCT) sejalan dengan upaya pemerintah mendongkrak jumlah wisatawan mancanegara. Pasalnya, pertumbuhan lalu lintas penumpang maskapai internasional berbiaya rendah lebih pesat dari maskapai full-service.


Hal itu seperti yang disampaikan Menteri Pariwisata Arif Yahya dalam keterangan resminya awal pekan ini.

Arif mengungkapkan pertumbuhan penumpang internasional setiap tahunnya rata-rata 13 persen per tahun. Dari angka tersebut, pertumbuhan penumpang yang menggunakan layanan Full Service Carriers (FSC) sekitar 7 persen. Sedangkan pertumbuhan penumpang LCC tumbuh 55 persen per tahun.

"Terminal LCC paling tepat karena pertumbuhan trafiknya di atas 20 persen dan sejalan dengan target pertumbuhan pariwisata 21 persen, sedangkan kalau mengandalkan Full-Service Carrier Terminal (FSCT) seperti Garuda di bawah 5 persen, sehingga sulit diandalkan untuk mencapai target pariwisata," ujar Arif dalam keterangan resmi. 


Arif memperkirakan, dengan adanya terminal LCC, maka maskapai bisa memotong biaya terminal hingga 50 persen, namun akan memiliki trafik yang meningkat dua kali lipat. Sebagai catatan, Passenger Service Charge (PSC) Terminal 2 domestik Soekarno Hatta Rp85 ribu dan Terminal 2 Internasional Soekarno Hatta Rp150 ribu.

"Sebanyak 45 maskapai LCC potensial yang belum terbang ke Indonesia. Contohnya Indigo (India) Vietjet (Vietnam) tidak mau karena Airport chargenya mahal. Hingga saat ini AirAsia yang sudah komitmen, di manapun ada LCCT AirAsia siap akan terbang," kata Arif.

Guna merevitalisasi kedua terminal tersebut, AP II telah menyiapkan anggaran mencapai Rp3,7 triliun. Anggaran tersebut, terdiri dari anggaran revitalisasi Terminal 1 sebesar Rp1,9 triliun dan Terminal 2 Rp1,8 triliun. (agi/agi)