Perpanjang Blok Rokan, Chevron Tawarkan Investasi Rp1.267 T

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 24/07/2018 20:40 WIB
Perpanjang Blok Rokan, Chevron Tawarkan Investasi Rp1.267 T Ilustrasi blok migas. (www.skkmigas.go.id)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memaparkan PT Chevron Pacific Indonesia (Chevron) berniat mengucurkan investasi hingga US$88 miliar jika kontrak kerja sama (KKS) Wilayah Kerja (WK) Minyak dan Gas Bumi (Migas) diperpanjang hingga 2041. Saat ini, PT Chevron Pacific Indonesia mengantongi hak pengelolaan blok migas terbesar di Indonesia itu hingga 2021.

Hari ini, Selasa (24/7), Luhut menerima kedatangan Managing Director Managing Director Chevron IndoAsia Business Unit Charles A. 'Chuck' Taylor. Chuck didamping oleh President Director PT Chevron Pacific Indonesia Albert Simanjuntak dan Senior Vice President, Policy, Government and Public Affairs Chevron Indonesia Yanto Sianipar.

"Investasi tahap pertama (10 tahun pertama) itu US$33 miliar dan kedua (10 tahun kedua) US$55 miliar," ujar Luhut di kantornya, Selasa (24/7).


Luhut mengungkapkan perusahaan asal Amerika Serikat itu akan menggunakan teknologi Enhanced Oil Technology (EOR) full-scale. Dengan teknologi tersebut, perusahaan mengklaim bisa meningkatkan cadangan minyak sebesar 1,2 miliar barel di mana pada tahap pertama akan meningkat 500 juta barel dan tahap kedua 700 juta barel.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Djoko Siswanto menyebutkan, dengan teknologi EOR, Chevron dapat mengerek produksi Blok Rokan menjadi 500 ribu barel per hari (bph) atau lebih dari dua kali lipat produksi saat ini.

Sebagai catatan, berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), pada semester I 2018, rata-rata produksi minyak Blok Rokan mencapai 207.148 bph atau 97 persen dari target 213.551 bph.


Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengungkapkan Chevron telah melengkapi proposal perpanjangan pengelolaan WK Rokan pada pekan ini. Proposal perpanjangan itu mencakup teknologi pengelolaan yang akan digunakan, besaran komitmen investasi pasti, besaran bonus tanda tangan, dan pembagian (split) produksi.

Archandra pun menargetkan evaluasi proposal Chevron ini bakal rampung pada bulan ini. "Evaluasi itu cepat. Evaluasi untuk semua dari tim (penilai) itu satu bulan. Sudah dari bulan (Juli) ini. Sekarang sedang dievaluasi," kata dia. 

Selain Chevron, PT Pertamina (Persero) juga berminat untuk mengelola blok Rokan. Namun, Kementerian ESDM masih menunggu perseroan untuk melengkapi proposal untuk hal-hal terkait komersial seperti komitmen investasi dan besaran bonus tanda tangan.

"Proposal Pertamina masih harus dilengkapi karena ada proses internal di Pertamina yang harus dilewati," ujarnya.


Pemerintah, lanjut Arcandra, memberikan waktu Pertamina untuk melengkapi proposal paling lambat akhir pekan ini.

Kementerian ESDM memang ingin mempercepat proses lelang WK migas untuk memberikan kepastian usaha dan mendongkrak investasi di sektor migas. Terlebih pengelolaan blok migas membutuhkan investasi dengan jumlah besar. Karenanya, meski kontrak kerja sama WK Rokan baru habis pada 2021, Kementerian ESDM ingin menetapkan pengelola blok selanjutnya dari tahun ini.

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), pada semester I 2018, rata-rata produksi minyak WK Rokan mencapai 207.148 barel per hari (bph) atau 97 persen dari target 213.551 bph. SKK Migas memperkirakan hingga akhir tahun, rata-rata produksi minyak WK Rokan akan berkisar 205.952 bph atau 96,4 dari target. (agi/agi)