Luhut Sebut Proyek Strategis Nasional Bisa Ditunda

SAH, CNN Indonesia | Kamis, 26/07/2018 19:32 WIB
Luhut Sebut Proyek Strategis Nasional Bisa Ditunda Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan menyebut proyek strategis nasional bisa ditunda jika tak mendesak dan membutuhkan impor besar. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah berencana menunda sejumlah proyek infrastruktur yang membutuhkan impor bahan baku terlalu besar. Proyek-proyek yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) juga kemungkinan akan ditunda.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (26/7).

"Kami lagi nanti evaluasi semua, yang menggunakan bahan impor banyak kami kurangi. Bisa saja (PSN) kalau dia banyak menggunakan barang impor, tapi so far sih enggak," terang Luhut.



Kendati begitu, pemerintah masih meninjau proyek mana saja yang bakal ditunda tergantung dari mendesak atau tidaknya proyek tersebut. Penundaan proyek ini bertujuan untuk mengurangi beban neraca perdagangan yang tengah defisit.

Sepanjang semester pertama tahun ini, neraca perdagangan tercatat defisit US$1,02 miliar. Defisit tersebut sebenarnya sudah lebih rendah dibandingkan posisi Januari hingga Mei 2018 yang mencapai US$2,83 miliar.

"Tadi saya sudah bilang yg banyak menggunakan barang-barang impor ya. Kalau (menggunakan) dalam negeri saja saya kira tidak perlu," ujarnya.


Presiden Joko Widodo sebelumnya disebut bakal menunda pembangunan sejumlah proyek infrastruktur besar guna menekan impor. Pada akhirnya, hal itu menjadi salah satu upaya menjaga nilai tukar rupiah yang belakangan terus melemah.

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika mengakui pembangunan infrastruktur memang turut berkontribusi pada kenaikan impor. Kenaikan impor pun berpengaruh pada fluktuasi nilai tukar rupiah.

"Proyek infrastruktur yang besar-besar dan tidak mendesak akan ditunda untuk mengerem impor," ujar Erani saat berkunjung ke kantor Transmedia, Rabu (25/7). (agi/agi)