Direktur Utama Bank Mandiri Kantika Wirjoatmodjo mengungkapkan, sejak dua minggu lalu, perseroan telah menawarkan suku bunga deposito valas sebesar 2,5 hingga 2,75 persen per tahun untuk transaksi negosiasi dengan nominal besar.
Sementara untuk transaksi di counter, suku bunga yang ditawarkan berada bawah level tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, rata-rata suku bunga valas deposito domestik hanya ada di kisaran 0,75 persen, tertinggal dari imbal hasil yang ditawarkan oleh negara tetangga.
Per harinya, lanjut Tiko, perseroan menerima transaksi jual valas sekitar US$150 juta.
Karena itu Tiko mengatakan, sekadar menaikkan suku bunga valas saja tak cukup membuat eksportir melepaskan atau menaruh valasnya di dalam negeri.
Menurutnya, perlu ada instrumen yang bisa memberikan kepastian bagi eksportir bahwa keuntungan jika menaruh valas mereka di dalam negeri akan lebih besar dibandingkan jika ditaruh di luar negeri.
"Apakah nanti mesti ada fasilitas forward yang memberikan keyakinan pada eksportir bahwa keuntungan yang mereka dapatkan dari deposito ini benar-benar sesuai atau sama dengan kalau mereka taruh di luar negeri," ujarnya.
Sebagai informasi, pekan lalu, Presiden Joko Widodo menginginkan eksportir membawa pulang DHE yang selama ini terparkir di luar negeri ke Indonesia.
Hal ini dilakukan untuk memupuk cadangan devisa agar bank sentral lebih leluasa dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak eksternal.
Lihat juga:Tekanan pada Rupiah Kian Berat |