Pengamat Ramal BI Naikkan Bunga Dua Kali Lagi di Tahun Ini

SAH, CNN Indonesia | Rabu, 01/08/2018 09:46 WIB
Pengamat Ramal BI Naikkan Bunga Dua Kali Lagi di Tahun Ini Logo Bank Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah Redjalam memprediksi Bank Indonesia bakal kembali menaikan suku bunga sebanyak dua kali hingga akhir 2018.

Hal itu dipicu oleh tren pengetatan ekonomi global. Menurut Piter, sejumlah bank sentral besar di dunia bakal melakukan pengetatan moneter, seperti halnya Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed) yang berencana meningkatkan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate sebanyak dua kali).

Begitu pun dengan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) dan Bank Sentral Eropa (European Central Bank) yang bakal melakukan pengetatan kebijakan ekonomi pada semester II 2018.



"Pada semester ini BI akan terus menaikan suku bunga karena The fed menaikkan dua lagi, saya perkirakan BI akan menaikan dua kali lagi masing-masing sebesar 25 basis poin (bps)," ujar dia.

Diketahui, sepanjang tahun ini BI sudah menaikkan suku bunga acuan mencapai 100 basispoin dari semula 4,25 persen menjadi 5,25 persen. Dengan kenaikan tersebut hingga akhir tahun suku bunga acuan BI bakal berada di level 5,75 persen.

Lebih lanjut, Piter mengatakan, kenaikan suku bunga ini bertujuan untuk mempertahankan diferensial suku bunga (interest rate differential) sehingga bisa mengurangi tekanan arus modal keluar.


"Kondisi suku bunga acuan sebesar 5,75 persen diyakini cukup kondusif bagi perbankan. Dengan asumsi tidak ada pemburukan akibat ketegangan perdagangan antara AS dan mitra dagang utamanya (China dan Eropa)," terang dia.

Pengetatan moneter ini, menurut dia, perlu diimbangi dengan pelonggaran arah kebijakan makroprudensial BI. Salah satu langkah yang sudah dilakukan BI, menurut Piter adalah dengan melonggarkan (Loan to Value/LTV).

"Ini dibarengi pelonggaran makroprudensIal 1 Agustus 2018. Ini kan ada pelonggaran LTV BI diharapkan mengurang makroprudensial lebih longgar," terangnya.

(lav/lav)