Perang Dagang Memanas, AS Ancam Tarif 25 Persen Produk China

Agustiyanti, CNN Indonesia | Kamis, 02/08/2018 20:45 WIB
Perang Dagang Memanas, AS Ancam Tarif 25 Persen Produk China Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (REUTERS/Carlos Barria)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah berupaya menekan China melalui rencana kenaikan tarif menjadi 25 persen pada produk China senilai US$200 miliar atau sekitar Rp2.880 triliun (asumsi kurs Rp14.400 per dolar AS).

Gedung Putih sebelumnya telah meminta kantor perwakilan dagang AS untuk melihat kemungkinan mengenakan tarif sebesar 10 persen dari produk China senilai US$200 miliar. Namun, dalam rencana teranyar, tarif tersebut akan ditingkatkan hingga dua kali.

Dikutip dari CNN, pembicaraan antara kedua negara terbesar di dunia ini berada pada kebuntuan, di mana kedua belah pihak terus mengancam dengan tarif baru.



AS sebelumnya telah mengenakan tarif sebesar 25 persen atas barang-barang China senilai US$34 miliar sebagai hukuman pada Beijing atas praktik perdagangan negara tersebut yang dianggap tak adil, seperti memaksa perusahaan AS mengalihkan teknologi. China pun kemudian memberikan balasan serupa kepada AS.

Dalam langkah terakhir, Trump telah mengarahkan Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer untuk mempertimbangkan kenaikan tarif untuk produk buah, sayur, tas tangan, lemari es, dan banyak lagi.

Kantor dagang AS telah memperpanjang tenggat waktu pemberlakuan penerapan tarif tersebut hingga 30 Agustus guna mendengar respons publik. Tenggat waktu itu kemudian diperpanjang hingga 5 September.


"Kemungkinan kenaikan tarif ini merupakan opsi tambahan untuk mendorong China mengubah perilaku yang membahayakan dan mengadopsi kebijakannya mengarah ke pasar yang lebih adil," ujar Lighthizer dalam sebuah pernyataan.

Juru bicara Departemen Luar Negeri China Geng Shuang mengaku China kini tengah berada di tengah sengketa perang dengan AS dan tak akan mengubah kebijakannya.

"Posisi China tegas dan jelas. Ini (kebijakan) tetap tidak berubah. Tekanan AS tidak akan pernah bekerja pada China. Jika AS mengambil langkah-langkah untuk lebih meningkatkan situasi, kami pasti akan mengambil tindakan," terang dia.

(lav/lav)