BI Klaim Inflasi Bengkak Bukan karena Rupiah

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 03/08/2018 21:38 WIB
BI Klaim Inflasi Bengkak Bukan karena Rupiah Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menilai inflasi inti yang membengkak pada Juli lalu murni terjadi karena meningkatnya harga pengeluaran sektor pendidikan, rekreasi, dan olahraga. Namun, bukan karena pengaruh anjloknya nilai tukar rupiah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi inti Juli 2018 sebesar 0,41 persen secara bulanan dan 2,87 persen secara tahunan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan hal ini karena secara musiman biasanya terjadi peningkatan harga, karena adanya musim ajaran baru sekolah.


"Kenaikan inflasi itu sebagian besar karena faktor musiman yang terkait biaya sekolah, biaya sewa, yang biasanya memang pada Juli itu waktu pembayaran," ucap Perry di Kompleks BI, Jumat (3/8).


Di sisi lain, ia menilai pelemahan rupiah tidak menjadi penyebab membengkaknya inflasi inti pada bulan lalu. "Kami tidak melihat adanya suatu dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap inflasi, kami tidak lihat ada dampak itu," katanya.

Pandangan bank sentral nasional ini berbeda dengan pemerintah. Sebab, menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, inflasi inti sedikit banyak terpengaruh pelemahan rupiah.

Menurut Darmin, inflasi inti terjadi karena tingginya harga barang impor yang terkerek oleh pelemahan rupiah. Maklum saja, nilai tukar rupiah saat ini berada di kisaran Rp14.400 per dolar AS.

"Biasanya inflasi inti itu ada di bawah 0,4 persen. Biasanya memang inflasi inti rendah," pungkasnya.


Secara keseluruhan, BPS mencatat inflasi bulanan Juli 2018 sebesar 0,28 persen. Sedangkan inflasi tahunan sebesar 3,18 persen. (lav/lav)