Harga Minyak Sepekan Mendapatkan Banyak tekanan

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 06/08/2018 07:09 WIB
Harga Minyak Sepekan Mendapatkan Banyak tekanan Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia merosot sepanjang pekan lalu. Pelemahan dipicu oleh sentimen terhadap potensi kelebihan pasokan serta memanasnya tensi perdagangan global yang berisiko menggangu permintaan.

Dilansir dari Reuters, Senin (6/8), harga minyak mentah berjangka Brent ditutup di level US$73,21 per barel pada Jumat (3/8) lalu. Harga tersebut secara mingguan turun 1,5 persen.

Penurunan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar 0,4 persen menjadi US$68,49 per barel.


"Ada kegelisahan di sini, selama kita (pasar) masih memiliki ketidakpastian atas pengenaan sanksi ke Iran dan ketidakpastian tarif, dan tidak membutuhkan banyak untuk memicu perubahan pergerakan yang signifikan dari satu arah ke arah lain," ujar Jim Ritterbusch, seorang analis di Galena, Illinois.


Ketakutan akan penurunan permintaan China terjadi pada Jumat lalu saat perusahaan pelat merah Negeri Tirai Bambu Sinopec memangkas pembelian minyak mentah AS juga memicu pelemahan harga minyak. Seorang sumber mengatakan bahwan perusahaan Unipec, yang merupakan unit usaha sektor perdagangan milik Sinopec, telah menunda impor minyak mentah dari AS akibat memanasnya tensi perdagangan antara China - AS.

"Permintaan China dari perusahaan kilang independen juga lebih rendah, sementara memanasnya perang dagang juga tidak membantu meredakan sentimen," ujar Analis Komoditas ING Warren Patterson.

Partner Again Capital Management John Kilduff mengungkapkan pelemahan harga minyak juga dipicu sikap China yang mengumbar rencana pengenaan tarif pada produk Liquified Natural Gas (LNG). Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran terhadap kemungkinan pengenaan tarif pada minyak sehingga membuat harga minyak tertekan.

Sementara itu di Rusia, produksi minyak Juli lalu meningkat 150 ribu barel per hari (bph) dari produksi Juni yang mencapai 11,21 juta bph. Produksi minyak dari Arab Saudi juga meningkat menjadi di kisaran 11 juta bph. 

Arab Saudi, Rusia, Kuwait, dan Uni Emirat Arab telah mengerek produksi untuk membantu mengimbangi proyeksi penurunan pasokan minyak mentah dari Iran jika sanksi AS diimpelementasikan pada November mendatang.


Namun, penghentian pasokan dari Iran secara total kemungkinan tidak akan terjadi. Berdasarkan informasi yang dikutip Reuters dari Bloomberg, China selaku konsumen terbesar minyak Iran telah menolak permintaan AS untuk memangkas impor dari produsen minyak ketiga terbesar di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) itu.

Rendahnya persediaan minyak mentah AS mampu menahan penurunan harga minyak. Data terakhir, persediaan minyak mentah AS berada di bawah level rata-rata lima tahunan di level 420 juta barel. Kendati demikian, masih ada kekhawatiran soal kenaikan pasokan jika pasokan minyak mentah dari fasilitas produksi Kanada kembali setelah sebelumnya berhenti beroperasi.

Pengebor minyak AS memangkas jumlah rig menjadi 859 rig pada pekan lalu, atau turun dua rig dari pekan sebelumnya. Sebagai catatan, jumlah rig dapat menjadi indikator produksi mendatang.

Menajer keuangan memangkas taruhan posisi harga minyak mentah bakal naik (bullish) pada pekan lalu seiring volatilitas harga minyak yang dibatasi oleh proyeksi pengetatan pasokan akibat pengenaan sanksi AS terhadap Iran dan ketakutan akan sengketa dagang yang dapat memangkas permintaan.

Jumat lalu, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC) menyatakan kelompok spekulator memangkas kombinasi kontrak berjangka dan opsi di New York dan London sebesar 5.287 kontrak menjadi 407.001 pada pekan terakhir Juli 2018.

(agt/agt)