SMI Sebut Pembiayaan Defisit Indonesia Lebih Aman dari Turki

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 14/08/2018 20:59 WIB
SMI Sebut Pembiayaan Defisit Indonesia Lebih Aman dari Turki Menteri Keuangan Sri Mulyani tetap yakin gejolak keuangan di Turki tidak akan merembet ke Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani masih yakin bahwa gejolak ekonomi yang terjadi di Turki tidak akan merembet ke Indonesia. Keyakinan tersebut salah satunya ia dasarkan pada perbandingan pembiayaan yang digunakan Indonesia dan turki dalam menutup defisit anggaran.

Ani mengatakan, untuk Turki, pembiayaan defisit banyak menggunakan dana asing. Porsi penggunaan dana asing dalam pembiayaan defisit di turki mencapai 53,2 persen dari total pembiayaan.

Sementara itu, untuk Indonesia, besaran porsi dana asing hanya mencapai 34,7 persen.


Perbedaan porsi pembiayaan tersebut membuat tingkat kerentanan Turki dan Indonesia jauh berbeda.

Tak hanya soal pembiayaan defisit anggaran, dari sisi pembiayaan sektor swasta Ani juga menyebut bahwa Indonesia masih lebih baik jika dibandingkan dengan Turki. Untuk Turki, utang perusahaan swasta mencapai 53,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sementara itu Indonesia hanya 34,7 persen.



Selain itu, dari sisi jumlah pembiayaan baru dan pembayaran utang jatuh tempo, risiko yang dimiliki Indonesia juga kalah besar dibanding Turki.

Turki, nilai pembiayaan baru dan pembayaran utang jatuh tempo mencapai US$52 miliar, sementara itu Indonesia hanya US$7 miliar.

"Konteks kebijakan dari sisi paparan dari kondisi eksternal, Turki lebih besar dari Indonesia, sehingga ini yang menggambarkan perbedaan antara Indonesia dan Turki," jelas Sri Mulyani di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (14/8).

Selain faktor tersebut, kepercayaan diri pemerintah juga ditopang oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Ani mengatakan bahwa secara fundamental, ekonomi Indonesia jauh lebih baik jika dibandingkan Turki.

Fundamental tersebut salah satunya tercermin dari pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Ia mengakui bahwa kuartal I 2018 Turki masih bisa tumbuh 7,4 persen, atau lebih tinggi dibanding Indonesia yang hanya 5,06 persen.



Tapi, pertumbuhan Turki tersebut tak didukung oleh inflasi. Inflasi Turki secara tahunan masih mencapai 16 persen, jauh dibanding Indonesia yang hanya 3,18 persen.

Walaupun demikian, Ani mengatakan bahwa pemerintah tidak akan terlena dengan kondisi tersebut.

Apalagi di tengah fundamental ekonomi yang bagus, Indonesia masih punya penyakit kronis; defisit neraca transaksi berjalan.

Pada kuartal II 2018 kemarin, defisit neraca transaksi berjalan masih mencapai US$8 miliar atau tiga persen dari PDB. 

Ani mengatakan bahwa jika tidak segera diatasi, masalah tersebut bisa menjadi bom waktu. "Ini yang kami sedang atasi," katanya. 




(agt/agt)