Sempat Menguat, Rupiah Kembali 'Lunglai' ke Zona Merah

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Rabu, 15/08/2018 09:09 WIB
Sempat Menguat, Rupiah Kembali 'Lunglai' ke Zona Merah Nilai tukar rupiah dibuka melemah di posisi Rp14.615 per dolar AS pada hari ini, Rabu (15/8), dibandingkan hari sebelumnya, yaitu Rp14.584 per dolar AS. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah dibuka di posisi Rp14.615 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot hari ini, Rabu (15/8). Posisi ini melemah 31 poin atau 0,21 persen dari penutupan kemarin, yaitu Rp14.584 per dolar AS.

Posisi ini membuat rupiah kembali terhempas ke zona merah, setelah kemarin sempat menguat secara signifikan ditopang memudarnya sentimen pelemahan lira, mata uang Turki.

Kembalinya rupiah ke zona merah ternyata sejalan dengan mayoritas mata uang Asia. Won Korea Selatan juga melemah 0,28 persen dari dolar AS. Diikuti yen Jepang minus 0,21 persen, ringgit Malaysia minus 0,07 persen, baht Thailand minus 0,04 persen, dan dolar Singapura minus 0,03 persen.


Sementara, dolar Hong Kong stagnan. Sedangkan peso Filipina masih berada di zona hijau menguat 0,01 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju. Semuanya kembali ke zona merah. Rubel Rusia melemah 0,36 persen, dolar Australia minus 0,14 persen, franc Swiss minus 0,14 persen, poundsterling Inggris minus 0,06 persen, dolar Kanada minus 0,02 persen, dan euro Eropa minus 0,02 persen.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan rupiah tetap berpotensi menguat pada akhir perdagangan. Pasalnya, rupiah akan menyerap sentimen internal yang datang dari pemerintah.

"Pemerintah menargetkan defisit transaksi berjalan dapat diturunkan secara signifikan pada akhir 2018. Ini bisa cukup memberikan sentimen positif pada rupiah," ucapnya.


Rencananya, pemerintah akan mengurangi defisit transaksi berjalan yang telah mencapai 3,0 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II 2018, dengan melakukan pembatasan impor pada proyek infrastruktur, kelistrikan, dan konsumsi.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara juga mengatakan bahwa pemerintah tengah mengkaji kenaikan tarif Pajak Penghasilan (PPh) impor dan bea masuk untuk membatasi impor.

Lalu, pemerintah juga akan memaksimalkan penerapan pencampuran Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan 20 persen minyak kelapa sawit atau yang dikenal dengan Biodiesel 20 (B20). Tak ketinggalan, sektor pariwisata akan terus digenjot.


(bir)