Sentimen Pilpres 2019 Tak Mampu Tahan Rupiah di Zona Hijau

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 10/08/2018 18:21 WIB
Sentimen Pilpres 2019 Tak Mampu Tahan Rupiah di Zona Hijau Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah melemah 62 poin atau 0,43 persen dan hinggap ke level Rp14.478 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan pasar spot hari ini, Jumat (10/8).

Namun, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.437 per dolar AS atau melemah dari posisi kemarin Rp14.422 per dolar AS.

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong menilai sentimen Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 dianggapnya tak mampu menahan rupiah di zona hijau. Meski, ada tensi tinggi momen pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres).



"Rasanya ini lebih perngaruh ke pasar modal, tapi untuk rupiah, tekanannya dari eksternal," ungkapnya kepada CNNIndonesia.com.

Pada pendaftaran capres-cawapres, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon pertahan, rupanya memilih Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin sebagai pendampingnya di pesta demokrasi tahun depan.

Sedangkan lawannya dari kalangan oposisi, Prabowo Subianto menggandeng Wakil Gubernur DKI Jakarta yang belum genap setahun menjabat, Sandiaga Uno, untuk merebut hati rakyat pada tahun depan.

Lukman menilai pergerakan rupiah hari ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen luar negeri, yaitu penguatan dolar AS akibat komunikasi AS-Turki yang tak menghasilkan jalan keluar.


Hal ini membuat investor banyak yang melepas lira, mata uang Turki dan membuat nilai tukar lira terperosok jauh, sehingga dolar AS menguat.

"Ini mempengaruhi negara lain, khususnya Eropa, karena Turki dianggap dekat dengan kawasan Eropa dan dikhawatirkan berdampak ke kawasan itu," katanya.

Selain itu, sambungnya, dolar AS kian perkasa lantaran malam nanti akan ada perkembangan data inflasi AS, di mana ekspektasi pasar positif terhadap data tersebut. "Data inflasi tentu diperhatikan selanjutnya oleh The Federal Reserve," imbuhnya.

Di kawasan Asia, pelemahan rupiah berada di urutan ketiga yang terparah, setelah won Korea Selatan dan renmimbi China yang masing-masing melemah 1,08 persen dan 0,46 persen.

Setelah rupiah, ringgit Malaysia minus 0,28 persen, peso Filipina minus 0,26 persen, rupee India minus 0,23 persen, dolar Singapura minus 0,14 persen, dan baht Thailand minus 0,03 persen.

Sedangkan dolar Hong Kong stagnan dan hanya yen Jepang yang berhasil menguat 0,1 persen dari mata uang Negeri Paman Sam itu.


Seperti halnya mayoritas mata uang Asia yang 'keok' dari dolar AS, seluruh mata uang utama negara maju juga loyo di hadapan dolar AS.

Dolar Australia minus 0,77 persen, euro Eropa minus 0,44 persen, poundsterling Inggris minus 0,32 persen, dolar Kanada minus 0,31 persen, rubel Rusia minus 0,2 persen, dan franc Swiss minus 0,1 persen. (lav/lav)