Namun, hanya dalam hitungan menit, rupiah kembali melemah ke Rp14.615 per dolar AS, sehingga kini melemah 0,05 persen dari penutupan kemarin. Pada pukul 09.30 WIB, rupiah bahkan berada di posisi Rp14.630 per dolar AS.
Seperti halnya rupiah, mayoritas mata uang di Asia juga tertahan di zona merah, seperti peso Filipina melemah 0,35 persen, dan ringgit Malaysia minus 0,18 persen, yen Jepang minus 0,1 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbeda dengan mata uang utama negara maju, dolar Australia dan dolar Kanada justru menguat hari ini, masing-masing 0,05 persen dan 0,06 persen dari dolar AS.
Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan rupiah akan kembali melemah pada hari ini hingga ke kisaran Rp14.622 per dolar AS.
Pasalnya, tekanan eksternal yang menguatkan dolar AS dan buruknya defisit neraca transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) yang mencapai 2,6 persen pada semester I 2018 masih membayangi rupiah.
Tekanan eksternal antara lain terjadi akibat krisis yang tengah melanda Turki. Usai diperdagangkan anjlok kemarin, lira Turki dibuka melemah tipisdi kisaran 6,88 lira per dolar AS.
Sementara sentimen baru yang cukup positif untuk mengangkat rupiah diperkirakan tidak ada pada hari ini. "Justru ada pemberitaan di mana pemerintah terlihat pusing dengan anomali pergerakan rupiah yang kian terdepresiasi, kian menambah sentimen negatif," katanya. (agi)