Sri Mulyani: Asumsi Harga Minyak Paling Sulit Dilakukan

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 16/08/2018 20:31 WIB
Sri Mulyani: Asumsi Harga Minyak Paling Sulit Dilakukan Ilustrasi minyak mentah. (REUTERS/Edgar Su).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan asumsi Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) sebesar US$70 per barel dalam Rancangan Anggaran Pendapat dan Belanja Negara (RAPBN) 2018 paling sulit dilakukan.

Pasalnya, selama enam bulan terakhir harga minyak mentah melonjak jauh di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang dipatok US$48.

"(Asumsi ICP) Ini merupakan salah satu prediksi yang paling sulit dilakukan. Kami menggunakan US$70 per barel berdasarkan perkembangan selama enam bulan terakhir yang sebetulnya berubah sangat besar dibandingkan asumsi APBN 2018," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (16/8).


Sri Mulyani mengungkapkan asumsi ICP tahun depan sama dengan proyeksi rata-rata harga ICP tahun ini sebesar US$70 per barel.

"Mungkin US$70 per barel adalah kisaran aman untuk membuat APBN kita kredibel meski ada yang memprediksi harga minyak bisa naik ke US$90 atau bahkan bisa turun ke US$50," imbuhnya.

Dalam paparan RAPBN 2019 Kemenkeu, pemerintah melihat harga minyak tahun depan akan bergerak stabil dengan pertumbuhan produksi minyak mentah yang lebih tinggi dibandingkan permintaan salah satunya akibat meningkatnya cadangan minyak shale AS.


Berdasarkan proyeksi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), permintaan minyak mentah 2019 tumbuh 1,45 juta barel per hari atau melambat dibandingkan tahun ini.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai asumsi pemerintah cukup realistis melihat perkembangan harga minyak dunia yang saat ini.

"Asumsi harga minyak saya kira realistis dibandingkan tahun ini karena trennya memang naik," pungkas Komaidi.


(bir)