Libur Panjang Lebaran Bikin Pendapatan Asuransi Jiwa Lesu

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 27/08/2018 20:59 WIB
Pendapatan premi asuransi jiwa sepanjang semester I 2018 tumbuh 5,5 persen menjadi Rp93,58 triliun, melambat dibanding semester I 2017 yang tumbuh 18,8 persen. Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatatkan pendapatan premi pada sepanjang semester pertama tahun ini sebesar Rp93,58 triliun, tumbuh 5,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu Rp88,66 triliun.

Kendati masih tumbuh, pertumbuhannya melambat dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat mencapai 18,8 persen.

Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu menyebut ada beberapa faktor yang menyebabkan realisasi pertumbuhan pendapatan premi periode ini lebih rendah dari sebelumnya.


"Situasi memang sedang volatile, kedua mungkin tingkat penetrasi memang agak terhambat di daerah Indonesia bagian timur," ungkap Togar, Senin (27/8).

Selain itu, periode semester I 2018 ini bertepatan dengan liburan panjang Idul Fitri dan persiapan anak masuk sekolah. Alhasil, banyak orang tua yang mengedepankan kedua kebutuhan tersebut dibandingkan membeli polis asuransi.

"Jadi ada pergeseran kebutuhan. Masyarakat punya uang, kan ada Tunjangan Hari Raya (THR) juga tapi ya lebih mementingkan kebutuhan lain dulu," papar Togar.


Adapun pendapatan premi pada semester pertama tahun ini terdiri dari premi bisnis baru sebesar Rp59,85 triliun dan total premi lanjutan sebesar Rp33,73 triliun.

Kendati tumbuh melambat di paruh pertama, Togar optimistis pendapatan premi pada paruh kedua tahun ini akan lebih baik. Ia yakin pertumbuhan pendapatan premi pada kuartal ketiga 2018 setidaknya sama seperti pertumbuhan kuartal ketiga tahun lalu yang mencapai 20 persen.

Selain pendapatan premi yang melambat, hasil investasi perusahaan asuransi jiwa nasional juga anjlok hingga minus 135,5 persen. Walhasil, hasil investasi sejak Januari hingga Juni 2018 minus Rp8,35 triliun dari sebelumnya yang untung Rp23,52 triliun.

Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim berpendapat penurunan ini disebabkan kondisi pasar modal yang sedang bergejolak sejak awal tahun ini.

Mengutip data RTI Infokom, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara year to date (ytd) turun sekitar lima persen. Namun, secara tahunan (year on year/yoy) masih tumbuh sekitar tiga persen.


Hendrisman menjabarkan dana investasi di instrumen saham mencapai sekitar 31,6 persen dari total investasi saat ini yang sebesar Rp435,99 triliun. Sisanya, dana investasi ditempatkan di reksa dana sebesar 33,3 persen, Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 13,8 persen, deposito sebesar 10,6 persen. Kemudian sukuk koperasi sebesar 6,9 persen, penyertaan langsung 1,7, investasi properti 1,4 persen, dan sisanya satu persen untuk investasi lain-lain.

"Nanti mungkin akan lebih banyak di reksa dana agar lebih stabil, reksa dananya juga macam-macam," kata Hendrisman.

Sementara itu, total klaim dan manfaat meningkat 14,5 persen dari Rp53,08 triliun menjadi Rp60,78 triliun. Porsi terbesar pembayaran klaim dan manfaat berasal dari klaim nilai tebus (surrender) yang mencapai 57,3 persen dari total.

Kemudian, klaim penarikan sebagian (partial withdrawal) berkontribusi sebesar 13,3 persen. Hendrisman mengakui secara jumlah naik 6,2 persen menjadi Rp8,08 triliun dari Rp7,61 triliun. Selanjutnya, klaim keseharan naik 9,1 persen menjadi Rp4,72 triliun.

Dengan berbagai kondisi tersebut, AAJI mencatat total pendapatan industri asuransi jiwa nasional menyusut 22,9 persen menjadi Rp89,73 triliun dari sebelumnya Rp116,35 triliun. (agi/agi)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK