Kemenpar Manfaatkan Pelemahan Rupiah Tarik Wisatawan Asing

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Rabu, 29/08/2018 05:50 WIB
Kemenpar Manfaatkan Pelemahan Rupiah Tarik Wisatawan Asing Kementerian Pariwisata memanfaatkan pelemahan rupiah untuk menarik lebih banyak wisatawan asing dengan meningkatkan promosi wisata, khususnya 10 Bali Baru. (Dok. Kemenpar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memanfaatkan pelemahan nilai tukar rupiah untuk menarik lebih banyak wisatawan asing dengan meningkatkan promosi berbagai pariwisata di Indonesia, khususnya wilayah yang dikenal 10 Bali Baru.

Ketua Tim Pokja Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas Kemenpar Hiramsyah S Thaib mengatakan momentum pelemahan nilai tukar rupiah akan membuat biaya wisata yang harus dikeluarkan wisatawan asing lebih murah.

"Biaya wisata di Indonesia lebih murah dan lebih kompetitif. Itu seharusnya menjadi momentum besar yang bisa dimanfaatkan," ungkap Hiramsyah, Selasa (28/8).

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah semakin terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dua pekan lalu rupiah berada di area sekitar Rp14.600 per dolar AS ketika ekonomi Turki dan mata uang negara tersebut bergejolak.


Namun, nilai tukar rupiah berhasil menguat ke level sekitar Rp14.500 per dolar AS setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen pekan lalu.

Sayangnya, hal itu tak bertahan lama. Tak sampai sepekan rupiah kembali tumbang di area Rp14.600 per dolar AS. Untuk sore ini, nilai tukar rupiah terkoreksi 0,04 persen ke level Rp14.626 per dolar AS.

Selain itu, peningkatan promosi pariwisata dikakukan guna menarik devisa wisatawan asing lebih banyak dari sebelumnya. Hal itu diharapkan pemerintah menekan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang nantinya juga bisa membantu pemulihan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Kami ingin belajar dari Thailand di mana pariwisata menjadi devisa utama, sehingga devisanya stabil tidak ke luar dibandingkan pasar modal dan lain-lain," papar Hiramsyah.

Dalam hal ini, pemerintah menargetkan sektor pariwisata menyumbang devisa sebesar US$20 miliar tahun ini. Bila mengacu data BI, angka itu naik 42,85 persen dibandingkan dengan realisasi devisa dari sektor pariwisata sebesar US$14 miliar.

"Sektor pariwisata sudah menjadi tiga dari sektor utama yang ditetapkan kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi), jadi butuh juga percepatan pengembangan prioritas," pungkas Hiramsyah. (lav/lav)