TOP TALKS

Bambang Brodjonegoro dan 'Darah Menteri' Dalam Tubuhnya

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 07/09/2018 13:55 WIB
Bambang Brodjonegoro dan 'Darah Menteri' Dalam Tubuhnya Bambang Brodjonegoro berhasil meneruskan 'darah menteri' dari sang ayah, Soemantri Brodjonegoro meski bidang pendidikan dan karier yang ditempuh sangat berbeda. (REUTERS/Iqro Rinaldi).
Jakarta, CNN Indonesia --
Nama besar sang ayah tak selalu jadi jaminan bagi karir dan kehidupan seseorang di masa depan. Hal ini yang terjadi pada Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro yang kini menduduki kursi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Kabinet Kerja.

Bambang mungkin berhasil meneruskan 'darah menteri' dari sang ayah, Soemantri Brodjonegoro, yang pernah menjadi Menteri Pertambangan serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Orde Baru. Namun, bidang pendidikan dan karir yang ditempuh sejatinya berbeda.

Soemantri memiliki latar pendidikan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang kemudian diikuti putra sulung dan putra keduanya. Sedangkan si bungsu, Bambang, justru memilih Universitas Indonesia (UI) untuk menempa ilmu ekonomi pembangunan.


Namun, siapa sangka, pilihan berbeda itu tetap membuat Bambang sukses menduduki berbagai jabatan penting dalam perjalanan karirnya. Mulai dari ranah akademik sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI hingga level birokrasi sebagai Menteri Keuangan dan Menteri PPN.

Baginya, kasih sayang dan nilai-nilai hidup dari orang tua menjadi fondasi pembentuk karakternya, Tak hanya itu, ia juga selalu berupaya bekerja keras dan mandiri dalam membangun karirnya.


"Boleh dibilang saya ini otodidak, saya analisa sendiri, kadang baca buku biografi dan manajemen kepemimpinan. Tapi, saya tidak belajar khusus, natural saja di setiap posisi yang diduduki," ucapnya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Selain selalu mau belajar dan bekerja keras secara mandiri, Bambang juga mengaku selalu berpegang tegung pada empat nilai, yaitu adaptif, antusias, optimis, serta mau berubah dalam menjalani setiap jenjang karirnya.

Adaptif, baginya, bukan sekedar menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada, namun bisa membuat kebijakan yang memang dibutuhkan agar lingkungan kerja lebih baik. Dengan demikian, prestasi yang lebih baik lagi bisa ditorehkan oleh institusi tempatnya bernaung.

Tak hanya itu, antusias dibutuhkan agar setiap tantangan baru yang dihadapi tak menjadi beban, namun semangat untuk bisa ditaklukkan dan dicari jalan keluarnya. Menurut Bambang, antusias ini memang tak pernah cukup bila hanya dimiliki oleh satu orang dalam suatu tempat kerja. Untuk itu, penting agar bisa menularkan antusias ini, terutama bagi para pemimpin.


Dia mengungkapkan sifat selalu optimis pada hasil yang baik dan maksimal juga harus ada. Tujuannya, agar semua bagian dalam suatu tempat kerja atau institusi tidak takut dengan kemampuan yang dimiliki untuk mengejar suatu target. Sekalipun target yang dikejar terlalu besar, namun bila ada sifat optimis, maka akan ada kerja keras yang tak melelahkan.

"Bagi saya, semangat kerja itu biasa. Tapi kalau diperkuat dengan antusias dan optimisme, nanti hasilnya jadi luar biasa karena semua dikerjakan dengan hati, tidak sekedar selesai dan atasan senang," katanya.

Tak ketinggalan, ingin bertransformasi. Baginya, mau berubah ini haruslah direalisasikan dengan sebuah 'gebrakan'. Namun, 'gebrakan' itu tak sekedar memberikan warna berbeda pada setiap masa kepemimpinannya di suatu institusi, namun memberikan perubahan yang perlu dan bermanfaat.

"Kalau seseorang hanya bekerja seperti rutinitas, dia tidak akan dikenang. Tapi kalau berubah, ia akan dikenang, apalagi kalau perubahannya bermanfaat," imbuhnya.


Dari Dunia Akademis hingga Birokrasi

Sebelum mengawali karirnya, Bambang lebih dulu mencari bekal ilmu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI. Setelah mendapat gelar sarjana dan menanggalkan 'jaket kuning', ia pergi ke Amerika Serikat (AS) untuk mendapatkan gelar master dan doktor dari University of Illinois di Urbana-Champaign.

Sepulang dari Negeri Paman Sam, Bambang kembali ke UI. Ia merintis karir sebagai dosen, lalu Kepala Jurusan, hingga akhirnya menjadi Dekan FEB UI. Kesuksesannya sebagai akademisi, membuat Bambang kerap mendapat undangan sebagai pakar ekonomi dalam kajian program kementerian.

Lalu, ia juga kerap mendapat undangan sebagai dosen tamu ke berbagai universitas di dunia. Hal inilah yang kemudian membuat Bambang berhasil mencicipi jabatan di organisasi internasional Islamic Development Bank (IDB).

Setelah itu, barulah Bambang mantap berkarir di ranah birokrasi, mulai dari Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, lalu menjadi Wakil Menteri Keuangan, hingga akhirnya resmi menjadi bendahara negara saat era Presiden Joko Widodo (Jokowi) dimulai.

Namun, sejak 27 Juli 2016 lalu, Presiden Jokowi mempercayai Bambang untuk menjadi juru kunci pengatur strategi pembangunan Tanah Air dengan memindahkannya ke Bappenas.

"Ketika saya masuk Bappenas, itu rasanya akumulasi belajar saya di UI, IDB, dan Menkeu terpakai semua. Apalagi, Bappenas ini mencakup semua yang saya dapatkan," ungkapnya.

Bambang Brodjonegoro dan 'darah Menteri' dalam Tubuhnya(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A).

'Gebrakan' Ala Bambang Brodjonegoro

Perubahan menjadi prinsip yang selalu dipegang oleh pria kelahiran Jakarta, 3 Oktober 1966 itu. Baginya, seseorang di jabatan penting apapun, tak cukup menjalankan tugasnya secara baik, namun perlu ada perubahan yang berarti.

Untuk itu, Bambang mengaku selalu berupaya berpikir kritis dan kreatif untuk menciptakan perubahan atau 'gebrakan' dalam setiap jenjang karirnya. Ia mengisahkan, 'gebrakan' pertama yang pernah dicetusnya ialah membuat UI memiliki kelas internasional.

Menurutnya, FEB UI sebagai salah satu fakultas ekonomi terbaik di Tanah Air tak bisa hanya dikelola dan berkembang dengan cara yang 'biasa-biasa' saja. Oleh karenanya, ketika menjadi Dekan FEB UI, ia mulai membangun relasi dengan beberapa koleganya di universitas lain di luar negeri, mulai dari Australia hingga Belanda.

"Waktu itu yang tidak suka banyak, karena menganggap UI seharusnya seperti UI di masal lalu. Tapi menurut saya, ketika UI sudah kuat di S1, harus kuat di S2 dan S3, bahkan internasional juga. Ini mindset yang harus diubah kalau mau maju," ucapnya.

Perubahan lain yang pernah dicetuskan pria yang mengaku menggemari olahraga bulu tangkis itu, ialah program pengampunan pajak atau tax amnesty. Masyarakat mungkin ingat, bagaimana pro dan kontra kebijakan itu, ketika pemerintah harus 'rela' mengampuni para pengemplang pajak demi mengejar basis data perpajakan yang lebih luas.

Meski kebijakan itu akhirnya hanya bisa dipersiapkan oleh Bambang karena eksekusinya lebih banyak dijalankan oleh bendahara negara selanjutnya, Sri Mulyani Indrawati. Namun, perjuangan Bambang meyakinkan para anggota legislatif untuk ikut merestui tax amnesty perlu diberi apresiasi.

"Saat menjadi Menteri Keuangan, memang pikiran terberat saya adalah bagaimana mencari pajak di lapangan? Karena yang terpenting itu pajak di lapangan, bukan sekedar di atas kertas dengan kebijakan yang sudah dirumuskan," katanya.

Hal teranyar, berbagai skema bantuan sosial (bansos) membuat Kabinet Kerja berhasil mencetak sejarah baru angka kemiskinan di Tanah Air. Satu digit, 9,82 persen atau 'tinggal' 25,95 juta penduduk miskin dari total populasi penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa. Bagaimana pun juga, kesuksesan itu tak lepas dari 'utak-atik' strategi pembangunan di bawah pimipinan Bambang.

"Tapi saya masih memiliki keinginan agar Indonesia keluar dari middle income trap. Saya ingin Indonesia bisa jadi negara maju," ujarnya.


Di luar semua nilai, perjalanan karir, dan hal-hal yang berhasil diraih Bambang, apa saja tantangan dan mimpi yang masih ingin diraih oleh Bambang Brodjonegoro? Berikut petikan wawancara CNNIndonesia.com bersama Bambang Brodjonegoro:

Apa saja tantangan-tantangan lain yang sempat Anda dapatkan di setiap kursi jabatan yang pernah diduduki?
Tentu masing-masing jabatan memiliki tantangan tersendiri. Misalnya di perguruan tinggi, sebenarnya tidak mudah juga karena dosen itu bukan anak buah saja. Saya Dekan, maka saya juga sama seperti mereka. Jadi tantangannya, saya harus memimpin orang-orang yang merasa dirinya sama antar satu sama lainnya. Hierarki tidak benar-benar ada di sana, mungkin hanya di bagian administrasi saja.

Hal ini berbeda ketika saya menyentuh birokrasi, misalnya ketika menjabat Kepala BKF. Di sana hierarki ada, tapi saya tetap harus bisa menjalin hubungan baik dengan eselon II. Ini berlanjut ketika saya jadi Menteri Keuangan, saya harus berhubungan baik dengan eselon I.

Meski sebenarnya hierarki itu ada, tapi saya berusaha membuat suasananya jadi tidak begitu hierarki, tapi lebih ke semi-kolegial. Saya ingin ini semua bisa lebih cair.

Tantangan lain, berkomunikasi dan berkoordinasi dengan DPR, DPR, hingga BPK. Kuncinya, saya selalu berusaha respect dengan mereka, tapi di saat yang sama saya selalu berusaha profesional dengan menjelaskan informasi yang saya miliki. Karena saya meyakini, hubungan ini bisa menjadi baik bila informasinya lancar. Kadang-kadang saya merasa DPR mengkritik karena kurang informasi, makanya saya jelaskan betul informasi itu supaya diskusinya jadi sama.

Itu tantangan lebih ke bawahan dan sesama kolega, lalu bagaimana dengan atasan?
Tugas utama saya adalah memenuhi harapan yang diinginkan atasan saja, Presiden dalam hal ini. Misalnya, rencana kerja pemerintah harus selesai tepat waktu, misalnya ketika bicara angka kemiskinan.

Sebagai Menteri, tentu saya harus bisa menjelaskan kepada Presiden, misalnya kalau pilih solusi ini, kelebihannya ternyata lebih banyak, tapi masih ada risiko. Atau solusi yang itu, ada kekurangannya, tapi risikonya hanya sesekali. Jadi harus berani jelaskan ke Presiden, misalnya soal angka kemiskinan, "Ini loh Pak risiko politiknya dianggap melakukan kampanye, padahal memang sudah waktunya harus melakukan itu. Harus turunkan kemiskinan dengan memperkuat bantuan yang tepat sasaran." Itu semua saja jelaskan.

Dengan berbagai tantangan itu, apakah Anda pernah merasa khawatir tidak bisa mengemban tugas dengan baik? Kekhawatiran apa saja yang sempat terpikirkan?

Ketika di perguruan tinggi, mulanya saya sebagai Ketua Jurusan, hanya pegang satu bidang ilmu. Tapi ketika jadi Dekan, FE itu kan menyangkut ekonomi, manajemen, dan akutansi. Saya sempat khawatir tidak bisa mengerti isu di akutansi dan manajemen. Tapi yang penting kuncinya terus belajar, banyak berkomunikasi, mau mengerti apa sih isu dan cara merangkul mereka. Kuncinya, "Kalau kamu bisa berkomunikasi dengan seseorang dengan bahasa mereka, itu akan membuat mereka itu trust dengan kamu."

Saat saya di IDB, saya harus membawahi riset di bagian islamic finance, padahal saya tidak mengerti. Jalan keluarnya ya saya belajar sambil bekerja, minimal saya langsung beradaptasi, cari tahu apa sih ilmu dan solusinya. Kalau sudah begitu, orang percaya bahwa saya adalah orang yang mau belajar, meskipun belum jadi ahlinya.

Waktu di Kementerian Keuangan, saya khawatir karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) itu saya hanya mengerti secara teori. Tapi isinya APBN itu saya jarang lihat. Baru di situlah saya lihat isinya dan memahami kebijakannya, terutama pajak.

Saya belajar Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sampai cukai rokok ya di situ. Mungkin hanya persoalan makro dan internasional yang mungkin saya tidak harus belajar secara dalam tapi kalau pajak dan cukai itu saya belajar betul di sana.

Nah, ketika masuk Bappenas, ini bukan berarti saya tidak belajar. Saya tetap belajar soal stunting dan kemiskinan lebih dalam dari Deputi saya. Intinya semua kekhawatiran itu dijawab dengan belajar.

Apakah ada banyak hal yang masih ingin Anda kejar?

Saya masih memiliki keinginan agar Indonesia keluar dari middle income trap. Saya ingin Indonesia bisa jadi negara maju. Indonesia telah berada di middle income trap sejak sekitar 2002-2003, berarti sudah 15 tahun dan itu masih di lovr middle income trap. Jadi ini perjalanannya masih panjang, meski kalau berdasarkan hitungan Bappenas, kalau setidaknya pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa 5 persenan saja setiap tahun, maka 2038 bisa jadi high income country.

Keinginan saya, Indonesia bisa lebih cepat lagi keluar dari middle income trap. Meski hal itu harus dilakukan secara bertahap, karena sekarang masih berkutat dengan bagaimana agar tingkat kemiskinan turun lagi, supaya inflasi rendah, supaya pertumbuhan ekonomi minimal 5 persen.

Itu masih basic issue yang harus dikejar, tapi saya mau punya kontribusi terus agar Indonesia bisa jadi negara maju.

Untuk mewujudkan kontribusi itu, apakah seorang Bambang Brodjonegoro masih mau jadi menteri di pemerintahan selanjutnya?
Kalau mau tidak mau jadi menteri, itu tinggal tunggu ada yang menawari atau tidak. Karena menteri itu bukan jabatan yang menggunakan skema pansel, dipilih. Itu kan hak prerogatif Presiden. Tapi setidaknya, saya masih punya passion untuk memajukan ekonomi Indonesia dengan apapun kapasitas saya.
(lav/bir)