IHSG Buruk se-Asia, OJK Sebut Belum Saatnya Intervensi Pasar

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Kamis, 06/09/2018 21:36 WIB
IHSG Buruk se-Asia, OJK Sebut Belum Saatnya Intervensi Pasar OJK menyebut saat ini belum waktunya melakukan intervensi di pasar saham, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun hampir 4 persen pada Rabu (6/9). (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut saat ini belum waktunya melakukan intervensi di pasar saham, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun hampir 4 persen pada Rabu (6/9).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen mengatakan pihaknya memiliki protokol untuk melakukan intervensi dalam bentuk auto rejection asimetris dan pembelian saham kembali (buyback) tanpa Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

"Sekarang belum, belum sampai di titik itu," ujar Hoesen, Kamis (6/9).



Pada perdagangan Rabu (5/9) kemarin, IHSG terjun bebas hingga ke level 5.683 atau anjlok 3,75 persen. Penurunan itu tercatat menjadi level terparah dibandingkan bursa saham di Asia saat itu.

Beruntung, IHSG mampu bangkit (rebound) 1,62 persen atau 92,59 poin di level 5.776 pada penutupan hari ini. Namun, jumlah jual bersih (net sell) pelaku pasar asing di pasar reguler masih berkisar Rp800 miliar.

Dengan kondisi IHSG seperti ini, Hoesen berpendapat, valuasi saham emiten kini dalam posisi murah. Hal itu terlihat dari price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV) masing-masing saham.


"PER PBV semua murah. Ini sebenarnya dalam kondisi normal orang itu harusnya berburu. Sekarang sudah di bawah kok tidak pada beli," tandas Hoesen.

Fundamental kinerja emiten di lantai bursa masih cukup menarik, karena sebagian masih mengalami pertumbuhan pada semester II 2018. Dengan begitu, naik turunnya saham sebenarnya tak perlu direspons berlebihan oleh pasar.

"Naik turun saham itu sebenarnya biasa. Saya bilang ini it's time to buy," kata Hoesen.

Pelemahan IHSG kemarin dinilainya sebagai kepanikan pelaku pasar akibat sentimen dari ekonomi global. Seperti diketahui, ekonomi dua negara yang masuk dalam daftar negara berkembang saat ini tengah bergejolak, yakni Argentina dan Turki.


Sementara itu, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China juga masih terus berlangsung. Walhasil, dolar AS pun semakin menguat terhadap hampir seluruh mata uang negara, termasuk Indonesia.

Bahkan, rupiah kemarin sempat menyentuh angka Rp15 ribu per dolar AS. Bank Indonesia (BI) mengaku melakukan intervensi maksimal merespons pergerakan rupiah yang liar akhir-akhir ini. Tercatat, rupiah pada hari ini berada di area Rp14.800 per dolar AS.

Hoesen menambahkan OJK akan melakukan sosialisasi agar masyarakat tak perlu resah untuk melakukan investasi di pasar saham Indonesia. Ia mengajak pelaku pasar untuk berpikir rasional.

"Pasar ini sedang tak rasional, masa valuasi rendah malah jual. Tolong Bapak Ibu sekalian kembali ke filosofi Anda berinvestasi," pungkas Hoesen. (lav/lav)