Kenaikan Stok Bensin AS Tekan Harga Minyak Dunia

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 07/09/2018 07:10 WIB
Harga minyak dunia mengalami pelemahan karena tertekan oleh kenaikan stok atau pasokan bensin di Amerika Serikat (AS). Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kenaikan stok bensin Amerika Serikat (AS) yang di luar dugaan menekan harga minyak dunia pada perdagangan Kamis (6/9), waktu AS.

Dilansir dari Reuters, Jumat (7/9), harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), merosot US$0,95 atau 1,3 persen menjadi US$67,77 per barel.

Penurunan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka Brent sebesar US$0,77 atau 1 persen menjadi US$76,5 per barel.


Di awal sesi perdagangan, kedua kontrak berjangka diperdagangkan dengan harga yang lebih tinggi. Hal itu terjadi karena dolar AS melemah dan munculnya bukti kuatnya permintaan bahan bakar minyak di AS.



Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa penurunan harga minyak terjadi meski stok minyak mentah AS mengempis lebih besar dari pada dugaan karena peningkatan aktivitas kilang. Sementara, stok bensin dan minyak distilasi menanjak.

Kemudian, stok minyak mentah di hub pengiriman Cushing, Oklahoma AS tercatat naik 549 ribu barel. "Lambannya pemulihan stok minyak mentah di Cushing, Oklahoma, sepertinya menjadi faktor penekan harga (bearish), dan absennya pembeli minyak mentah AS dari China juga menekan volume ekspor," ujar Partner Again Capital Management John Kilduff di New York.
Kilduff juga menilai bahwa laju pertumbuhan produksi domestik AS juga tidak secepat di awal tahun.

Sementara, pasar uang, obligasi, dan modal di negara berkembang terpuruk pada beberapa pekan terakhir sebagai reaksi atas krisis finansial yang terjadi di Turki, Afrika Selatan, dan Venezuela.



"Pekan lalu, kita telah melihat perhatian pasar kembali beralih dari sisi pasokan ke sisi permintaan dan bencana terus menerus di pasar modal, obligasi, dan uang negara berkembang membebani proyeksi permintaan untuk jangka menengah dan panjang," ujar Manajer Senior Saxo Bank Ole Hansen.

Menurut Hansen, pasar telah melihat sejumlah momentum pada pekan lalu. Namun, pasar minyak kembali tertekan setelah gagal menembus level US$80 per barel. " Sekarang, kita memiliki dimensi tambahan untuk lonjakan harga minyak yang hanya dapat menambah sakit (untuk konsumen) dan mengerek risiko terjadinya perlambatan permintaan," ujar Hansen.

Pasar minyak tengah bersiap untuk kehilangan pasokan setidaknya 1 juta barel per hari (bph) minyak mentah Iran mulai awal November seiring berlakunya sanksi AS terhadap Iran. Harga minyak telah menanjak sekitar 3 persen sejak Gedung Putih mengumumkan sanksi tersebut pada Mei 2018 lalu.

"Pertanyaan terbesar adalah berapa banyak minyak mentah Iran yang akan menghilang (dari pasar) setelah 4 November 2018 saat ronde kedua dari sanksi AS berlaku," ujar Analis PVM Oil Associates Tamas Varga.



Menurut Varga, jika pasokan dari Iran merosot sekitar 1 juta bph atau lebih, seperti yang diperkirakan, keseimbangan pasar yang rapuh bakal terganggu dan harga minyak tetap akan terdorong ke atas.

Pada Rabu (5/9) lalu, Organisasi Negara Pengekspor Minyak Dunia (OPEC) memprediksi bahwa permintaan minyak global bakal menembus 100 juta bph untuk pertama kalinya tahun ini.

Risiko lebih lanjut masih terlihat di Venezuela, salah satu anggota OPEC, di mana krisis politik dan pemerintahan telah memangkas separuh produksi minyak selama dua tahun terakhir menjadi sedikit di atas 1 juta bph.
(agt/agt)